Val mendapat banyak karangan bunga apresiasi berkat penampilannya yang luar biasa. Musisi-musisi lain yang berpartisipasi dalam resital juga mendapat penghargaan dari banyak orang.
Namun, terjadi perubahan rencana yang menambah durasi acara. Gaspard de la Nuit Scarbo by Maurice Ravel yang dimainkan dengan sempurna oleh seorang Anggabaya Reagan Slaine. Membuat seluruh hadirin melakukan standing ovation selama hampir lima menit.
Tak ragu menunjukkan kekaguman mereka pada penampilan sempurnanya. Angga menjadi nova yang lahir karena resital Irfan.
*
Royal Study Room.
“Waaahh, kanpeki desu yo nee (sempurna). Penampilan Irfan kemarin malam keren banget, deh. Brahms Violin Concerto itu sulit banget, lho. Gile lu, bro!” puji Elsa. Menepuk-nepuk punggung Val.
“Aku nggak ngerti, sih. Dari respon after performance kelihatannya emang bagus,” sambung Dymas. Menyalami Val.
“Ternyata Elsa ngerti juga susah gampangnya main biola,” kata Aldy.
“Namanya juga suka dengerin musik klasik, tapi penampilan Aldy juga…”
Elsa ragu melanjutkan ucapannya. Khawatir menyinggung Val. Bagaimana juga, itu acaranya.
Tapi, penampilan Aldy menghasilkan tepuk tangan lebih riuh ketika standing ovation untuk pemilik acaranya sendiri hanya dihargai selama tiga menit.
“Hallo, anak-anak. Duduk, ya. Kita mulai pelajaran hari ini,” potong Akutagawa Sensei.
Setelah menjelaskan satu bab. Akutagawa Sensei duduk dan membiarkan Valdymas (+Elsa) mencatat.
“Kemarin saya datang, lho,” beritahu Akutagawa Sensei.
“Sensei buat Val malu aja,” ledek Dymas. Mengerling ke arah Val yang serius menulis.
“Sensei duduk di mana?” tanya Elsa.
“Tepat di belakang kalian. Saya pikir siapa ini. Rasanya kenal. Ternyata Elsa dan Dymas. Hebat MUA dan fashion advisor-nya.”
“Iya, dong. Rekomendasinya Val gitu,” pamer Dymas.
“Penampilan Val sepertinya tidak sebergairah biasanya,” ucap Akutagawa Sensei tiba-tiba.
“Padahal bagus begitu. Di telinga ahli mah ada aja yang kurang,” komentar Dymas.
“Sensei kan penggemar berat Val,” kata Elsa.
“Elsa kok tau aja, sih. Kalian bertiga nggak mengkhianati aku dengan bisa main alat musik sendiri, ‘kan?” tanya Dymas. Mengerucutkan bibir.
“Ternyata Aldy pandai bermain piano. Tidak pernah ikut lomba atau tampil di suatu tempat? Ravel-mu bagus sekali. Sampai kaget saya,” kata Akutagawa Sensei.
“He he he. Saya sangat berterima kasih pada Val karena membiarkan saya debut di resitalnya. Sebenarnya biasa saja, sih,” jawab Aldy.
“Bisa main alat musik apa lagi?” tanya Akutagawa Sensei.
“Jangan disamakan dengan Val. Main piano saja sulit,” jawab Aldy merendah.
“Val kenapa? Kok nggak semangat gitu?” tanya Elsa.
Val tersenyum. “Nggak apa-apa.”
“Kamu hebat. Kamu yang terbaik,” bisik Elsa.
Senyumannya melebar. Hatinya menjadi hangat. Mengetahui bagaimana Elsa begitu memahaminya.
Begitu dekat dengan penderitaan dan kesusahannya. Titik kecil yang mampu disentuh gadis itu. Segalanya untuknya.
“Nee, keberadaan orang-orang super kaya bagai pedang bermata dua. Mereka bisa melakukan banyak kebaikan dengan harta yang mereka punya. Di sisi lain, ada berapa banyak propaganda dan manipulasi yang mereka ciptakan,” terang Akutagawa Sensei.
Val membisiki Aldy, “Kenapa jadi ngomongin ginian?”
“Dymas nanya, apa dunia benar-benar membutuhkan orang kaya. Topiknya beralih jadi konseling,” jawab Aldy.
“Semakin banyak uang seseorang, semakin besar kuasanya. Semakin besar pula kesempatannya melakukan kebohongan. Tentu kita tidak boleh memandang orang kaya dari sisi buruknya saja. Ada banyak orang kaya baik, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di balik layar emas mereka,” lanjut Akutagawa Sensei.
“Sensei ngeledek Val, ya,” ledek Dymas.
“Val kan baik. Jangan disudutin, dong,” bela Elsa.
“Santai, my Lady. Bercandaan anak laki-laki memang begini,” ucap Dymas membela diri.
“Sepuluh persen populasi manusia yang menguasai perekonomian dunia. Ada banyak tirai yang terus mereka buka tutup. Mereka manipulasi. Saya tidak menyangkalnya. Karena saya bagian dari manipulasi itu,” pungkas Akutagawa Sensei.
“Uwoh, orang kaya emang beda, ya,” cengir Aldy sambil menatap tajam ke kaca jendela yang sedikit memantulkan bayangan wajahnya.
*
Sepulang sekolah.
“Elsa, hari ini kita ke rumah sakit,” peringat Aldy.
“Emang, tapi aku nggak mungkin bawa orang tua. Apalagi Bu Kholifah,” respon Elsa.
“Nggak masalah. Akan kita hadapi semua sama-sama.”
“Iya. Kita harus melakukan yang terbaik agar Bu Kholifah nggak nulis hal yang aneh di raport.”
Val dan Dymas keluar dari gerbang sekolah dengan motor mereka.
“Elsa, hari ini ke rumahku, yuk,” ajak Val.
“Eh, mau ngapain kamu?” tanya Dymas.
“Mau latihan piano,” jawab Val.
“Aldy juga bisa main piano. Latihannya di rumahku aja, Elsa,” ajak Dymas. Mengerucutkan bibir kesal.
“Aku sama Aldy mau ke rumah sakit,” beritahu Elsa.
Aldy tersenyum. “Nggak apa-apa. Lain kali aja kita perginya.”
*
Di rumah Dymas.
Aldy langsung berlari menuju si Putih di lantai dua. Dymas hanya melihat dan mendengar Aldy mulai melemaskan jari-jari.
Tekanan pada tuts piano yang begitu emosional dan penuh ekspresi membuatnya terlarut. Endless Love by Lionel Ritchie & Diana Ross ia buat jadi begitu menyayat hati.
“Uwes, bro, uwes. Sing galau neng kene uduk kowe tok (Udah, bro, udah. Yang lagi galau di sini bukan hanya kamu doang),” ucap Dymas.