Aku tumbuh dalam rasa malu. Tatapan semua orang terasa bagai lampu sorot.
Aku berharap perubahan terjadi. Mengusahakan banyak kiat untuk mewujudkannya, tapi apa pun yang kulakukan hanya dipandang sebelah mata. Aku meragukan esensi eksistensi diriku yang kotor ini.
Semua orang hanya figuran yang mengantarkanku ke posisi puncak. Setelah itu mereka akan kembali ke kehidupan normalnya.
Belum pernah kutemui seseorang yang benar-benar sama denganku. Bahkan Valdymas. Mereka hanya pelarian ketidakpuasan diri.
Jika aku memang sama dengan Elsa, aku harap kami bisa bersama.
Tapi, Elsa pun pasti memilih yang lebih baik. Seseorang yang bisa menyempurnakannya. Bukan menambahi kekurangannya.
Seperti aku.
Aku tak pantas dikasihani. Atau dicintai. Aku hanya harus melanjutkan kehidupan wayang golek masyarakat yang teklak tekluk ke sana kemari.
Hanya Elsa yang bisa mengisi kehampaan ini. Memahami luka tidak terlihat ini.
Tapi, dia bukan untukku. Dia hanya diciptakan untuk mereka yang sempurna.
Apa yang harus aku perbuat. Ketika kehampaan mencapai batasnya.
Aku bisa melakukan segalanya. tapi tak ingin melakukan segalanya. Aku tidak bisa bertahan lebih lama. Harus segera kulakukan sebelum masalah kembali datang.
*
Aldy berdiri di trotoar jembatan sungai Pucang. Sepagi ini, jalan raya belum begitu ramai. Banyak kendaraan melaju cepat memanfaatkan jalan lengang. Inilah waktu terbaik mengakhiri seluruh penderitaannya.
Terlihat sebuah mobil pick-up berisi sayuran melaju kencang dari kejauhan. Ia tinggal pura-pura tersandung. Takkan ada yang menyadari niat sesungguhnya.
Grep.
Bruaak.
Whuuzzh.
Supir pick-up banting setir dan melenceng dari jalur lurus. Pemuda bersinglet merah berkulit gelap, berkumis, dan berbandana itu keluar dari bangku kemudi. Siap memaki-maki si pencari mati.
“Dek, masih pagi ini. Jangan cari masalah kamu. Kalau barang-barang saya kenapa-kenapa bagaimana, hah?!!”
Dymas segera menyalami si supir dengan dua lembar lima puluh ribuan terselip di genggaman. “Maafkan teman saya. Dia masih ngantuk.”
“Jangan diulangin lagi, Dek.”