Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #41

40: Anak Hilang

Hari ini ia berangkat lebih pagi. Ia tidak tahan pada bagaimana kerabatnya memperlakukannya bagai sampah.

Karena di sekolah ada yang memperlakukannya seolah barang mewah. RSR satu-satunya utopia yang tersisa di dunianya. Valdymas tak lagi menganggu.

“Melihat seorang dari mereka nongkrong di bawah jembatan penyebrangan dengan tampang preman gitu juga udah gak terganggu lagi.”

“Pagi,” salam Dymas.

“Selama ini kamu nungguin aku dari jam segini? Jadi nggak enak.”

“Nggak apa-apa. Nggak ada kerjaan juga.”

“Belajarmu?”

“Bisa dilanjutkan kalau kamu sudah datang.”

“Jangan begitu, dong. Aku ini pakai kerudung. Masih pagi gelap begini jalan berdua sama laki-laki kelihatannya nggak enak.”

“Aku nggak kepikiran. Kepikirannya pengen ketemu kamu secepatnya.”

“Yang kamu ceritakan kemarin itu Aldy, ‘kan?”

“Dia sedikit aneh sejak kekerasan yang dialaminya ketahuan sama kita, tapi dia baik-baik aja. Dia bukan tipe yang bakal mudah menyerah.”

*

Royal Study Room.

“Selamat pagi,” salam Aldy ceria.

“Kamu telat lagi, Aldy,” tegur Akutagawa Sensei.

“Sepertinya tepat. Sensei yang kecepetan,” tengoknya ke jam dinding.

Akutagawa Sensei menyadari sesuatu. “Aldy, wajahmu…”

“Sebaiknya kita cepat. Ada banyak yang ingin saya tanyakan. Bab ini, ini, soal ini. Kita tidak boleh buang waktu. Teman-teman, ngobrolnya libur dulu, ya.”

*

Royal Breaktime.

“Yosshha, capek juga ngomongin pelajaran terus. Kalian mau makan apa?” tanya Aldy.

Val coba berbicara, “Dy, mending kita semua ke…”

Aldy menggoyangkan telunjuknya. “Lord Val dan yang lain hari ini di kelas aja. Akan kubawakan makanan kantin biasa. Cepat pesanannya!”

Val menyerahkan lima lembar seratus ribuan. “Belikan apa saja. Jangan buat aku lihat kembaliannya. Habiskan, buang, atau lakukan apa saja dengan benda itu.”

“Yes, my Lord.”

“Hadehh, pusing aku,” keluh Dymas seperginya Aldy.

“Orang yang kamu omongin kemarin Aldy, ‘kan?” tanya Val.

“Bisa seragam gitu pikirannya. Janjian, ya?” cengir Dymas melihat Val dan Elsa.

“Mungkin kita harus ambil langkah yang lebih serius untuk menolong Aldy. Elsa, dokter ngomong apa?” tanya Val.

“Dokter nggak membicarakan keadaan Aldy di depanku. Aku juga nggak bisa menyimpulkan apa pun,” jawab Elsa.

“Orangnya ceria. Dari luar kelihatan sederhana, tapi ternyata lebih rumit dari itu semua. Aku juga nggak ngerti harus gimana,” ucap Dymas.

“Dia nggak pernah cerita apa pun sama kita. Di depan kita dia selalu kelihatan sehat, bahagia, ceria,” ucap Elsa.

Lihat selengkapnya