Setiap hari Aldy harus sampai di rumah jauh lebih dulu timbang Widuri. Mengerjakan tugas di rumah teman mungkin membuat ia berhasil mendapat sedikit toleransi. Tapi, selain itu, mata-mata Widuri akan mengawasinya tanpa henti dari ujung kepala sampai ujung kaki sepanjang hari.
Widuri sendiri bukan tipe orang yang akan selalu menghukum tiap kesalahan yang ia lakukan. Untuk beberapa saat mungkin hanya akan dipantau dari kejauhan. Saat sudah terakumulasi hingga banyak baru diberi hukuman walau tanpa peringatan. Bagai sebuah konversi dosa.
Aldy sendiri sudah tak begitu memikirkannya. Ia sadar mungkin hanya hidup untuk menerima rasa sakit baru dari kedua “orang tuanya”.
Tidak masalah karena sekarang ia tidak sendiri. Tapi, membayangkan Elsa harus rasakan kesakitan yang sama membuat Angga jadi semakin tak bisa memalingkan muka.
Sampai Widuri atau Genting kembali. Ia harus duduk di ruang tamu. Seperti tawanan berkedok pelayan yang menunggu kedatangan sang tuan.