“Aku nggak mau kamu mengalami hal yang kualami. Tapi, dari ceritamu selama ini… sepertinya sudah terlambat untuk mengharapkan hal seperti itu.”
Keduanya berjalan-jalan diiringi topik obrolan yang lebih ringan.
Angga mengajak (memaksa) Elsa berfoto di photo box. Elsa terus merapat ke pinggiran untuk menjaga batasan.
Di salah satu foto, wajah Elsa sampai hanya terlihat separuh. Angga geli melihat foto-foto itu. Mengingat bagaimana biasanya perempuan mati-matian berfoto di dekatnya.
“Fotonya buat kamu aja,” ucap Angga.
“Aku jelek, ya?” tatap Elsa sedih ke empat foto di tangannya.
“Kalau di aku nanti kulihatin terus malah jadi zinah lagi.”
“Jangan dilihatin terus, dong. Disimpan aja dalam photobook buat kenang-kenangan.”
Tuk. Dijitak ringan kepala Elsa sampai jilbabnya sedikit melorot. “Aku nggak mau kenang-kenangan. Aku mau sama kamu selamanya.”
“Dek Angga ini terlalu jauh berpikirnya, ya. Lulus SMA juga paling udah lupa.”
“Hmm, apa kamu akan melupakanku secepat itu?”
“Bisa berteman sama kalian aja masih terasa kayak mimpi. Aku harus siap bangun kapan pun kenyataannya datang.”
“Kamu kelihatan negatif banget. Padahal sehari-hari bisa dengan percaya diri menceritakan kesuraman hidupnya. Kalau aku nggak bakal bisa kayak gitu, lho.”
“Sebenarnya aku paham makna kata dunia lain yang kamu bilang tadi. Tapi, aku terlalu takut mengakui kalau aku juga alien. Keluargaku hancur sejak kecil. Sampai usia 11 tahun, aku hidup seperti mayat. Lalu, aku kecelakaan dan koma sampai beberapa bulan lamanya.”
“Wha… B-Beberapa bulan??!”
“Ya, hampir mati. Udah di ambang batas dunia akhirat.”
“Orang yang selamat dari koma panjang biasanya mengalami sesuatu… yang tak bisa dijelaskan oleh logika. Apa terjadi juga sama kamu?”
“Aku nggak jadi dapat indra keenam atau semacamnya, sih. Tapi, lebih buruk dari itu.” Elsa menutup sebelah matanya. Melanjutkan, “Bipolar (gangguan jiwa yang menyebabkan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa fase mania dan depresi) dan psikosis (gangguan jiwa yang menyebabkan ketidakmampuan penderita menilai kenyataan).”
“Oh ya? Terus… bagaimana respon keluargamu?”
“Mereka bilang aku baik-baik aja. Tapi, aku tahu mereka mengatakan itu karena tidak mau mengurusiku aja. Kedua orang tuaku juga sudah punya keluarga baru. Aku diminta menanggung semua beban ini sendiri. Wajar kan kalau kadang ingin mati?” Elsa menjelaskan. Tersenyum di akhir.