Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #45

44: Nyatanya Dunia

Mereka bilang semua yang terjadi padaku adalah kesalahanku. Tak seorang pun menghiburku. Bahkan keluargaku sendiri.

Saat itu aku masih kecil dan keluarga kehilangan makna esensialnya. Aku bertanya-tanya, apakah hanya aku yang mengalaminya? Dan apakah itu semua bisa disebut normal? Aku merasa butuh bantuan.

Tidak tahan dengan keadaanku sendiri membuat saat naik ke kelas delapan aku pergi ke dokter jiwa seorang diri. Dokter meminta keluargaku datang, tapi tak seorang pun menghiraukan.

Perisakan di sekolah memperparah kondisi jiwaku. Nilaiku menempati posisi terbawah satu angkatan. Aku tak bisa melawan dan tak ada guru juga yang peduli.

Naik ke kelas sembilan aku merasa kondisiku semakin mengerikan.

Setiap malam aku akan menangis diiringi teriakan yang tak bisa kukendalikan. Aku didiagnosis GAD (Generalized Anxiety Disorder atau gangguan kecemasan kronis), gangguan panik, dan fobia sosial.

Dokter mengatakan kondisiku benar-benar membutuhkan perhatian. Lagi-lagi aku coba memancing perhatian keluargaku.

Yang aku dapatkan? Mereka tertawa. Mengataiku gila. Dan lagi-lagi berkata, itu semua salahku sendiri. Konyolnya mereka berkata harusnya aku bisa menyembuhkan diri sendiri.

Berhasil lulus dari SMP negeri adalah keberhasilan yang menenangkan, tapi sejujurnya aku tak begitu senang. Aku hanya tenang setidaknya tak perlu menerima cemoohan keluarga dan teman-teman lama yang mengenalku sebagai pemain biola berbakat dan cerdas. Saat itu aku masih tinggal di rumah kerabat di Jakarta.

Sungguh, duniaku tidak memberi tempat untuk perubahan. Aku sudah selamat dari kecelakaan maut juga masih saja ditekan oleh ucapan: kamu nggak sepintar dulu, nggak seberbakat dulu, nggak secantik dulu.

Lihat selengkapnya