Hari kedua menghilangnya Angga. RSR tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasa.
Elsa banyak menelungkupkan wajah. Val fokus pada pelajaran, namun pikirannya melayang ke Tanjung Perak.
Hanya Dymas yang tetap berusaha membuat suasana kelas tak begitu dingin. Ia terus bicara dengan suara dan raut ceria. Mengabaikan Elsa, Val, bahkan Akutagawa Sensei yang terlihat sensi.
Val berpikir, reaksi kagetnya saat aku beritahu Aldy menghilang cukup meyakinkan.
Te-ta-pi… dia itu aktor, Val! Aktor! Dia bahkan bisa lebih dari dua tahun berpura-pura tidak mengenali Aldy. Dia juga pandai merespon situasi sesuai kondisi.
Sampai detik ini pun aku belum tahu identitas aslinya. Apa menghilangnya Aldy berhubungan dengannya? Sikapnya setelah itu terlalu kalem.
Tak bisa disalahkan karena selama ini memang begitu. Tapi, ini semua masih terlalu aneh.
Dymas… saudara Aldy… lelucon macam apa ini semua sebenarnya?
Akutagawa Sensei meninggalkan kelas tanpa suara. Wajahnya terlihat sedingin es balok. Val dan Elsa seperti tenggelam dalam lautan kekhawatiran masing-masing.
Untuk Val, ia sedang gamang untuk mengkonfirmasi identitas Dymas di hadapan Elsa. Ia tak mau gadis itu merasa semakin terbebani.
“Nggak ada yang lapar apa?” tanya Dymas.
“Apa kamu tahu Aldy kenapa?” tanya Val.
“Ya enggak, lah,” jawab Dymas santai sambil mengangkat Pundak dan dua tangan.
“Padahal selama ini Aldy bukan orang yang impulsif. Kenapa tiba-tiba kabur dari rumah? Sebentar lagi kita akan lulus. Dia bukan tipe pencari masalah. Seperti ada yang mempengaruhinya mengambil keputusan nekat itu,” analisa Elsa.
“Kamu yang terakhir bertemu dengan Aldy, ‘kan? Jujurlah apa saja yang dia katakan. Val mulai curiga kamu mempengaruhi dia untuk kabur, lho,” ucap Dymas dengan raut menggoda.
“Daripada Elsa aku lebih curiga padamu. Sejujurnya,” balas Val dingin.
“Waahh, apa ini semacam suspect game? Ayo kita lanjutkan. Kelihatannya asyik. Tapi, biarkan aku mengisi perut dulu, ya. Kalian berdua… diskusikan saja sesuatu untuk menyudutkanku,” tunjuk Dymas dengan jari tengahnya.
Tepatnya interrogation game.
“Apaan sih dia,” tatap Elsa sinis mengikuti langkah Dymas yang menjauh.
“Aku pengen memberitahu kamu sesuatu, tapi jangan beritahu siapa pun atau menunjukkan bahwa kamu mengetahuinya.”
“Ada apa lagi, sih?”
“Aldy dan Dymas bersaudara.”
Kedua matanya langsung melotot. “APA? Kabar dari mana itu? D-Dan kamu percaya?”