Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #49

48: WTMY

Hari ketiga menghilangnya Angga. Elsa mengawali hari dengan berat.

Berangkat pukul empat. Langit masih gelap. Tak banyak orang di jalan. Memberi ruang berpikir lebih dalam.

Mengetahui fakta siapa Angga sebenarnya sama sekali tak membuat ia bahagia. Untuknya selama ini keluarga Halayuda adalah muse, pujaan, panutan, tujuan, bahkan doa. Mendapat kenyataan bahwa ternyata mereka tak seberkilau kelihatannya benar-benar buatnya merasa hampa.

“Membunuh. Angga pernah membunuh.”

Ucapan itu terus berputar dalam kepalanya.

Kenapa wajahmu jadi begitu, Elsa? Bukannya itu hal biasa untukmu?

Kematian. Kesakitan. Penderitaan.

“Yang buat wajahku begini adalah fakta kalau ternyata kamu bagian dari keluarga Halayuda.”

Nah, bagaimana? Kita sama-sama cacat. Ayo saling melengkapi.

“Hanya kesempurnaan yang bisa mengisi kecacatan. Hidupmu masih panjang, Angga. Kamu juga berasal dari keluarga mapan yang terkemuka. Ada banyak kesempatan untukmu kembali menata hidup. Tinggalkan saja batu kali ini.”

Kamu suka aku, ‘kan?

“Aku sudah menyukai banyak hal sepanjang hidup dan ditinggalkan. Aku nggak mau menyukai atau mengharapkan apa pun lagi. Semua sudah selesai.”

Kamu suka aku, ‘kan?

“Aku dibesarkan dengan pikiran negatif, Angga. Saat mendapat kebaikan, keluarga yang harusnya jadi rumah untuk seseorang itu akan bilang kalau semua hanya kebetulan. Saat ada orang yang mengakuiku, keluarga yang harusnya jadi rumah itu akan bilang kalau mereka hanya kasihan.

“Aku… Aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup bersama orang seperti kamu. Sejak awal orang seperti kita tidak diciptakan untuk saling berpasangan. Harusnya orang seperti kamu paham betul itu, ‘kan? Ayolah.”

Kamu suka aku, ‘kan? Jawab itu saja cukup, lho.

Lihat selengkapnya