Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #55

54: Identify Yourself

Saat seumuran Mac, Blenda tak pernah memperlakukannya sebaik itu. Ia tak pernah ke luar negeri dan memberikannya oleh-oleh secara langsung. Pasti dititipkan ke pelayan. Ia juga tak pernah menghubunginya sesering ia menghubungi adiknya.

Sampai akhirnya sebuah bibit hitam tumbuh dalam hatinya. Mulai menguasainya.

Iri hati.

Dengki.

Amarah.

Emosi.

Ia telah melakukan segala hal untuk menarik perhatian orang tuanya. Tapi, mereka tetap tak menoleh padanya.

Sampai adiknya lahir. Harapan itu tampak semakin menjauh.

Ia menyayangi adiknya. Namun, apabila keberadaan anak itu menghalangi seluruh impiannya….

“Lebih baik dia mati saja.”

Eits, mari berpikir lebih jernih, Adikara Mahaeswara Halayuda.

Satu-satunya keluarga yang menghargai keberadaanmu di rumah ini hanya Mac. Jika Mac mati, kemungkinan besar tak ada lagi yang akan menghargai dan menyayanginya.

Ck ck ck.

Keberadaan anak itu terlalu berharga. Ia harus memikirkan cara lain.

*

CCG Tower.

“Ada apa, Adi?” tanya Blenda di ruangannya. Ia terkejut saat mendengar putranya datang sendiri tanpa supir.

“Papi pasti kaget. Aku bisa pergi ke sini sendiri memakai kendaraan umum.”

“Tentu. Kamu belum pernah naik kendaraan umum. Juga baru kembali dari luar negeri. Terlebih, hal seperti ini sangat berbahaya, Adi. Kamu tidak boleh keluar tanpa pengawasan orang dewasa.”

“Aku akan kembali ke Swiss.”

“Oh, bagus. Kamu memang akan lebih baik di sana. Lebih berkualitas. Lingkungan yang lebih cocok untuk anak seperti kamu.”

“Berarti Papi dan Mami akan sendiri di Indonesia,” lanjutnya dengan perasaan dongkol.

“Tidak. Mac akan melanjutkan sekolah di Indonesia,” ucap Blenda tegas. Tetap serius bekerja. Tanpa sedikit pun melihat sang putra.

“Apa?! K-Kalau begitu… aku…”

Ditahan lelehan air mata di pelupuk. Ia kehabisan kata untuk diucapkan.

Padahal seharusnya bukan begini. Padahal bukan ini yang ia inginkan.

Seharusnya mereka…

Separah jiwanya seperti melayang pergi ke langit di luar jendela.

“Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu putuskan, Adikara. Kamu anak pertama saya. Harus kuat dan tahan banting. Papi takut sekali jika sampai keberlimpahan fasilitas membuat kamu jadi manja, lembek, dan tidak bisa diandalkan.”

Blenda menggelengkan kepala. Wajahnya menatap serius.

Lihat selengkapnya