Hari ini ia akan memutuskan kebahagiaannya. Bukti keberadaannya. Ia bersumpah akan mendapatkan perhatian orang tuanya.
Bagaimana pun caranya.
Ia meminta sepuluh pelayan laki-laki yang paling sering melayaninya berkumpul di dapur. Ia memasak kue yang resepnya ia pelajari di kelas memasak Aiglon.
Tanpa seorang pun ketahui, ia memasukkan tiga tetes cairan bernama Fire Blues ke dalam adonan. Cairan yang akan menjadi ajang pembuktian diri. Seperti yang temannya minta.
“Terima kasih banyak atas kesediaannya memenuhi undangan saya,” ucap Adi hormat. Ia selalu diajari menghormati yang lebih tua. Siapa pun dia.
Dia sudah dicueki oleh Tubes dan Nyobes. Masa sama pelayannya dicueki juga, batin semua pelayan yang berada di sana. Singkatnya pembenaran karena rela mengenyampingkan pekerjaan demi memenuhi undangan anak itu.
“Apa yang Tuan Muda siapkan?” tanya seorang pelayan. Berusaha terlihat antusias.
Dipindahkan kue buatannya dari meja masak ke meja makan. “Ini Meringue,” tunjuknya ke kue bulat dengan atasan yang berbentuk seperti tumpukan potato chips di atas piring kristal cekung bening. “Ini Bündnernusstorte,” tunjuknya ke roti bulat pipih seperti pie di atas piring kristal datar bening biru.
Seorang pelayan menatap kagum ke dua sajian sekelas koki profesional itu. “Anda membuatnya tanpa bantuan siapa pun?”
“Tanpa bantuan siapa pun!” sahutnya bangga.
Pelayan lain mengeluarkan kamera yang digantung di leher. “Saya akan memotret dan menunjukkannya pada Tuan dan Nyonya. Mereka pasti bangga.”
“Tidak perlu.”
Adi segera memotong kue-kue itu menjadi sepuluh bagian. Diletakkan di piring yang berada di hadapan pelayannya masing-masing.
“Silahkan dinikmati.”
Satu demi satu mereka tak ragu menikmati hidangan kue itu. Selain tampak lezat, rasanya pun luar biasa. Baru juga setahun tinggal di sana, kemampuannya sudah berkembang sedemikian rupa.
Tak heran Blenda sangat membanggakan dan selalu memujinya di hadapan mereka.
Brukk brukk brukk.
Satu demi satu mereka tak lagi mampu menahan berat tubuh dan kesadaran masing-masing. Seperti ada yang salah.
Adi menarik laci dan mengeluarkan sebilah pisau. Ditatap kesepuluh pelayannya seperti kambing yang siap dikorbankan. Akan ia jadikan suatu perayaan darah untuk memancing para iblis berdansa!
“NHA NHA NHA NHA NHA NHA NHAAA ♪♪♪!!!”