Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #57

56: Penjara Hati

“Waowh!” sentak Elsa tersadar dari mimpi buruknya.

Ia tak ingat kapan pergi tidur. Yang jelas mimpi yang habis dialaminya sangat mengerikan.

Ditolehkan kepalanya ke kiri. Terdapat hamparan awan putih di luar jendela. Ia tak bisa berkata-kata saking kagum sekaligus ngeri.

“Apa yang terjadi? Aku kenapa? Ini di mana?”

Pertanyaan terlontar begitu saja. Menatap ruangan mewah di sekitarnya. Terdapat set sofa mewah lain dan sebuah home theatre. Kemewahan yang tak terjangkau nalarnya.

Semua yang ia kira hanya ada dalam mimpi.

“Kapal selam,” jawab suara di belakangnya.

Segera ia tolehkan kepala. “A-Angga!”

Belum usai kekagumannya menatap interior luar biasa mewah ruangan itu. Ia kembali dikejutkan fakta Angga, Aldy, Adikara atau siapa saja lah yang sedang berada dalam sebuah kandang besi.

Bagai raja hutan ganas yang akan dijadikan raja hutan sirkus.

Dicengkram jeruji besi dengan kedua tangannya yang gemetar kebingungan. “Kenapa… Kenapa kamu diperlakukan kayak gini?” tanya Elsa.

“Habis aku nggak mau diikat,” jawab Adi santai sambil mengangkat satu tangan.

“Idih, kenapa juga kamu harus sampai diikat?” tanya Elsa histeris.

Ia bangkit dan mulai mencak-mencak. Ia tak sadar di belakangnya berdiri enam orang pelayan.

“Kita pasti diculik terus mau dijual sama saudagar kaya luar negeri. Kalau kamu aku mengerti. Tapi… apa yang mau dibeli dari aku coba? Aku tuh kaya nggak, cantik nggak, pintar nggak, punya bakat spesial juga nggak. Aku takut, Ngga.” Dipeluk dirinya sendiri.

“Jangan takut, lah. Kan ada aku,” ucap Adi menenangkan. Ia sama sekali tak menunjukkan raut khawatir pada Elsa. Ia tak mau pujaan hatinya turut merasa gundah gulana.

“Angga, apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

“Tinggalkan kami!” pintanya ke enam pelayan di belakang kandangnya.

Dengan patuh mereka menyingkir ke bagian dalam kabin.

“Kamu tau kan, Angga itu nama palsu. Mulai sekarang panggil aku Adi, ya,” beritahu Adi.

“Ya Allah, aku ingin hidupku normal saja. Kenapa jadi begini, sih…?”

“Maaf kalau aku nggak normal. Ngomong-ngomong kamu tadi mimpi apa sampai tersentak bangun begitu?”

“Aku mimpi kita berdua lagi naik pesawat. Pilot sama kopilotnya mati. Terus kamu menggantikan mereka menerbangkan pesawatnya.”

“Kenapa ekspresi bangunmu kayak orang habis melihat setan? Itu bukan mimpi buruk. Malah bagus kalau bisa terjadi sungguhan.”

“Nggak buruk tapi mengerikan, Anggabaya! Maksudnya Adikara! Mana ada anak SMA bisa nerbangin pesawat?”

“Oh ya?”

“Kamu nggak bisa, ‘kan?” tatap Elsa dalam. Serius.

Adi mengalihkan wajah. “Eeh, iya, anggap saja nggak bisa.”

“Gila. Mimpi apa aku? Jadi, kamu benar-benar Adi Halayuda?”

“Ceritanya panjang.”

“Terus kenapa kita berdua ada dalam jet ini?”

“Bukan jet. Ini Airbus ACJ319.”

Lihat selengkapnya