Keesokan harinya.
Adi berinisiatif menghampiri Elsa untuk sarapan. Di kamarnya gadis itu telah mengenakan gamis bercorak bunga-bunga dengan rok berfuring dipenuhi renda yang cantik.
Adi tak berkedip saat pertama melihatnya. Ia merasa ini respon positif keluarganya.
Ia hanya harus menunggu Elsa benar-benar mengutarakan. Perasaannya. Sebenarnya.
“Kamu seperti tuan putri,” puji Adi tanpa sadar.
“Putri tidur,” sahut Elsa menutupi rasa malu.
“Tidak. Kamu adalah tuan putri pengisi istana hati.”
Raut wajah Elsa seketika berubah. “Apa kamu yakin bisa memasuki istana itu?”
“Yakin, dong. Hatinya kan punyaku.”
“Yaah, semoga saja begitu.”
Di ruang makan telah menunggu Mac. Ia mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi dan sedang sarapan dengan posisi tubuh berkelas.
“Assalammualaikum. Selamat pagi, Mas, Mbak,” salam Mac.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Elsa. Ia terpana berinteraksi langsung dengan orang yang selama ini hanya ia kenali lewat layar kaca. Kualitasnya melebihi harapan.
“Mac sekolah di sekolah Islam. Makanya agamanya pintar.”
Mac langsung memeluk Adi. “Iya, dong. Aku nggak boleh malu-maluin sebagai adiknya Mas Adi.”
Adi melepaskan paksa pelukan adiknya. “Jangan pegang-pegang!”
Elsa tersenyum kecil menatap kedekatan Adi dan adiknya. Sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Didesahkan napas terdalamnya tanpa suara.
“Mbak, tau gak. Mas Adi ini lulusan SD bergengsi di luar negeri,” demo Mac. Formalitasnya berganti menjadi senyum polos anak biasa. “Mas Adi hanya satu tahun di sana. Tapi, lulus dengan predikat tertinggi di angkatannya,” lanjutnya.
Plok plok plok. “Kakak dan adik sama-sama hebat.”
“Psst psst, temen Mas Adi ini anak-anak raja lho, Mbak.”
Plaak. “Habiskan sarapanmu atau Mas akan kembali pagi ini juga!”
“Mbak, kalau udah jadi ist…”
PLAAK. “Kamu diajarin apa di sekolah bisa bicara seperti itu?”
Mac mengusap batok kepalanya. “Ampun, Mas.”
“Sekolah kita bagaimana, ya?” tanya Elsa.
“Kita kan anak RSR. Kelasnya bisa diganti. Pokoknya kita harus segera kembali.”
Elsa menggigit bibir bawahnya. Tak yakin pada ucapan Adi.
“Oke, Mbak dan Mas tersayang. Pemuda tampan ini akan berangkat menimba ilmu dulu. Doakan daku selalu. Assalammualaikum,” salam Mac.
“Belajar dari mana dia kalimat kayak gitu?” tanya Adi.
“Padahal di internet dia kelihatan serius banget. Ternyata aslinya lucu. Imut. Pasti menyenangkan punya adik sepertinya,” puji Elsa.
“Selama ini kan dia memakai topeng anak pertama Halayuda. Image seperti itulah yang harus dibangun.”
“Aku tahu uang mengendalikan segalanya. Tapi, sampai mengubah kenyataanmu sebagai Adikara Halayuda yang asli. Apa penyebabnya? Identitas apa yang Mac gunakan di sekolah? Keluarga ini… terlalu aneh.”
“Bukankah kamu menyukai sesuatu yang berbeda?”
“Memang, sih. Adi, apa kita boleh pergi keluar?”
“Rumah ini seperti penjara. Kita tidak akan boleh keluar tanpa alasan jelas dan bersama supir. Membosankan.”
“Bukankah bagus?”
“Kenapa?”
“Berarti keluargamu mempedulikanmu. Mari lihat dari sisi yang lebih positif. Dulu aku izin pergi ke diskotik. Hanya caper saja, sih. Sayangnya tidak ada yang melarang. Kalau aku sungguhan pergi dan akhirnya hamil di luar nikah pun sepertinya mereka takkan peduli.”
“Oke, aku akan mulai menikmati setiap larangan mereka. Terima kasih.”