Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #61

60: Awalnya

Ruangan Blenda tampak menawan dengan interior klasik Victorian dengan dominasi warna emas dan putih.

Di tengah plafon terdapat chandelier berwarna tembaga. Lantainya kayu dilapisi karpet berwarna karamel dengan corak menawan. Dinding berwallpaper putih gading banyak ditutupi rak buku dan hiasan bernuansa klasik lain.

Cermin berbentuk lingkaran terpasang di bagian dinding kosong dekat pintu. Seolah berkata awali hari dengan refleksi diri.

Namun, yang terpenting adalah Blenda yang duduk di belakang meja sedang menatapnya. Blenda yang selama ini hanya ada dalam bayangannya. Blenda yang sempurna dengan keluarga bahagia. Blenda yang selamanya hanya mimpinya.

“Elizabeth Arkandina Arkadewi. Itu nama kamu?” tanya Blenda datar.

“Benar. Disingkat jadi Elsadina Riordan saja.”

“Mari buat kesepakatan. Jangan katakan apa pun yang tidak saya tanya.”

“Baiklah,” jawab Elsa.

“Apa yang kamu suka dari anak saya?” tanya Blenda.

“Dia menggairahkan,” jawab Elsa datar.

“Apakah itu cinta, cinta monyet, atau perasaan kagum belaka?” tanya Blenda memperjelas.

“Saya juga tidak yakin,” jawab Elsa.

“Untukmu apa itu suka?” tanya Blenda.

“Saya tidak punya penjelasan terperinci. Saya belum pernah benar-benar menyukai siapa pun. Termasuk anak Anda. Ya, saya menyukainya hanya karena dia terasa seperti wadah, rumah untuk keberadaan saya. Itu saja cukup,” jawab Elsa.

“Sekarang kamu tahu siapa dia sebenarnya. Bagaimana dia. Kebusukannya. Kebohongannya. Kepalsuannya. Semua yang membuat dia hanya menjadi boneka dalam tatanan dunia.”

“Itu tidak penting. Yang penting dia menyukai saya.”

“Saya mulai suka cara berpikirmu. Orang yang tidak peduli yang dihadapinya monster hanya dua. Dia pawang monster atau dia sendiri monster. Kalau kamu yang mana?” tanya Blenda.

“Keduanya. Saya pawang monster yang juga monster,” jawabElsa.

“Saat dia masih Angga, menjadi Aldy, lalu Adi. Apa yang kamu pikirkan soal dia?” tanya Blenda.

“Dia menggairahkan. Dia memberi saya alasan untuk terus hidup di dunia yang membosankan,” jawab Elsa.

“Kenapa?” tanya Blenda.

Lihat selengkapnya