“Kamu sudah paham, Raja. Itu tugas kamu selanjutnya.”
“Saya paham, Pak. Tapi, apa tidak terlalu sembrono? Saya khawatir pada kondisi kejiwaan Adi. Dia tidak sekuat kelihatannya. Dia reckless. Little brittle.”
“Dia juga tidak selemah kelihatannya. Percaya pada adikmu, dong.”
“Saya percaya. Tapi…”
BRAKK. Pintu ruangan Blenda terdobrak dari luar. Dua orang penjaga yang bertugas di depan tak sanggup menghadang lajunya. Ia sudah lelah menunggu panggilan yang tak kunjung datang.
Raja sampai menyingkir ke sudut ruangan agar tak terkena dampak amarah Adi yang meluap-luap.
“Kenapa Papi melakukan ini pada saya?” tanya Adi emosi.
“Raja, tolong buatkan teh untuk kami. Adi, duduklah dulu,” pinta Blenda.
“Saya benar-benar nggak habis pikir sama Papi. Apa lagi dari hidup saya yang ingin Papi hancurkan?”
Ditutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tak ingin lagi berlagak normal di hadapan Blenda. Ia adalah satu-satunya yang harus mengetahui betapa gila dirinya.
“Saya tahu yang terbaik untukmu.”
“Terbaik apa?! Papi tidak pernah menyayangi saya. Sekarang Papi mengangkat gadis yang paling berharga untuk saya. Papi ingin saya sehancur apa lagi?!”
Air matanya menetes membasahi permukaan meja. Blenda belum berpikir merubah keputusannya.
Blenda mencengkram kedua lengan Adi. Menatap lurus ke kedua matanya. “Kamu tidak boleh hancur. Masa depan indah tidak kamu dapatkan lewat ujian mudah. Kamu akan menjadi pewaris Papi. Menanggung hidup jutaan pegawai kita. Apa yang mau kamu harapkan kalau melewati yang seperti ini saja tidak bisa?”
Cklek. Adi mematahkan kacamata Chopard yang tengah bertengger di hidung Blenda. Wajahnya tersenyum walau air mata mengalir.
“Aku ingin jadi polisi, Pi. Aku tidak tertarik jadi penanggung jawab hidup jutaan pegawai Papi.”
“Polisi kamu bilang. Kamu tidak ingat apa yang sudah kamu lakukan?”
“Kenapa Papi tidak melaporkan saya? Apa Papi takut?”
“Kamu masih mendekam di penjara saat ini jika saya lakukan itu, Adikara! Saya menahanmu seperti itu agar kamu bisa melewati ratusan tahun secepat mungkin. Padahal kamu pintar. Kenapa kamu tidak mau mengerti?”
Tubuhnya bergetar. Ia mulai kehilangan konektivitas dengan kenyataan.
Kedua temannya muncul tepat di belakangnya. Masing-masing membisikkan idealisme masing-masing. Kepalanya serasa akan pecah oleh luapan kata-kata.
Raja menahan tubuh Adi yang akan terjatuh. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya limbung.
Ditegakkan tubuhnya. Suara yang sangat ia kenal. “Kenapa Dymas ada di sini?” tanya Adi semakin kalut.
“Pak, akan saya bawa Adi ke ruang belajar. Saya mohon izin…”
“Siapa orang ini, Pi?!”
“Dia Raja. Anak yang Papi pungut setelah kelahiranmu. Mungkin kamu tidak mengingatnya. Dia selalu mengawasi dan menemanimu bermain saat kecil.”
“Papi mau bilang kehidupanku di kota itu berada dalam pengawasan Papi lewat… dia? Kehidupan sekolahku. Kedua orang tua angkatku. Sikap mereka. Apa Papi juga yang mengendalikan semua?”
“Bersyukurlah Raja tak suka melihat perlakuan Lakstiara dan Genting. Dia berhasil membujuk untuk Papi membiarkanmu kembali ke sini. Meski masa hukumanmu harusnya belum selesai.”
Bunuh.
Jangan.
Hancurkan.
Jangan.
Realistislah.
Bermimpilah.
Putus asa.
Berharap.
Brukk.
Adi tak lagi kuasa menahan berat tubuhnya. Napasnya tersengal-sengal tiada henti. Pandangannya mengabur. Ia tak tahu milik siapa tubuh yang digunakannya kini.
Raja tak bisa menahan air mata. Dinaikkan tubuh Adi ke punggung. “Pak, perintahkan saya membawanya ke rumah sakit!”
“Tidak perlu. Hubungi dokter. Bawa dia ke kamarnya.”
“Baik.”
*