Hari pertama home-schooling Elsa dan Adi dimulai pukul delapan pagi di ruang belajar. Elsa sudah siap sejak pukul setengah delapan. Namun, kakaknya belum muncul selama waktu itu.
“Biar saya yang memanggilnya, Pak.”
“No, tidak perlu. Biar dia putuskan sendiri mau datang atau tidak. Pelajaran merupakan hal yang harus diterima dari lubuk hati.”
“Saya rasa Adi hanya kekurangan faktor pendukung.”
*
Ia akan gila. Ia menutup pintu kamar saat teman-temannya muncul.
Mengabaikan keberadaan mereka, ia tetap melangkah menuju ruang belajar. Namun, temannya yang pertama menuturkan betapa hipokrit dan naif dirinya.
Adi selalu menutup mata dari realita. Realita bahwa orang-orang yang dibunuhnya beberapa tahun silam berada di sekitarnya.
Berulang kali ia kucek matanya hingga berair. Sosok pria yang harusnya sudah mati tengah asyik berkebun dengan tatapan tanpa ekspresi.
Ia terus mengintip dari balik jendela lorong. Diingat lagi, ia juga melihat dua orang dari mereka di kebun binatang. Ia tak memikirkannya karena sedang bersama Elsa.
Tapi… itu benar-benar mereka.
Dilarikan tubuhnya secepat mungkin. Tiba-tiba ia melupakan denah rumahnya sendiri. Ia terus lari dari bayang-bayang yang mengejarnya.
Grep.
“Papi.”
“Kenapa kamu di sini? Sekolahmu dimulai setengah jam lalu.”
“Iya, Pi. Tapi… aku barusan… mereka… aku takut… Papi… tolong, tolong aku!”
“Kenapa rahangmu?”
“Kemarin aku jatuh.”
Dicengkram kedua pundak Adi. “Kalau kamu begini lagi lihat saja nanti, Adikara!”
“Aku hanya ingin Papi….”
“Jangan cengeng! Dunia yang menantimu jauh lebih kejam dari ini.”
“Raja, antar Adi ke ruang belajar!”
“Baik, Pak.” Raja mengayunkan tangannya, “Yuk, Di.”
*
14 jam kemudian.
“Ya Allah, aku bisa struk setiap hari belajar kayak gini,” keluh Olaf.
“Nggak apa-apa, dong. Kan ada Kakak,” goda Adi.
“Nanti bantu buat PR.”
“Kamu minta Kakak kerjain juga gak apa-apa,” goda Adi menjadi-jadi.
Plaak. Raja menghujam batok kepala Adi dengan gulungan majalah. “Nggak boleh!”
“Kita minta bantuan Om Raja aja,” lanjut Adi.
Plaak. “Gue masih 25.” Raja sudah dititahi untuk tak meninggalkan Adi apa pun yang terjadi. Jadi, ia tetap berdiri di sisinya seperti patung batu.
“Ya sudah, aku ke kebun binatang dulu. Ingin menjenguk lynx baru kita,” izin Olaf tak sabar segera berkenalan dengan anggota baru mini-zoo mereka.