Adi telah merubah tekadnya. Merubah keteguhan hatinya.
Sayang, tekad dan keteguhan hatinya yang baru tetap tak sesuai dengan keinginan Blenda.
Namun, ia mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Ia telah memiliki cinta yang selalu ia dambakan. Satu dua rintangan takkan lagi menjadi halangan.
“Pak, saya ingin meminta kelas tambahan,” pinta Adi di akhir sesi kegiatan belajar mengajar.
Pak Gantari menatap Olaf yang telah mencapai batasnya. Menatap kosong pemandangan di luar jendela. “14 jam belajar non-stop apa masih kurang, Adi?”
“Saya ingin jadi sepintar Pak Habibi. Agar bisa kuliah di Jerman. Agar bisa membuat pesawat.”
“Adi, kamu itu sudah pintar. Sangat pintar. Kamu juga tak perlu membuat pesawat untuk menerbangkan sesuatu.”
“Apa maksud Anda?” tanya Adi.
“Kamu tahu berapa banyak mimpi dan harapan yang sudah CCG terbangkan ke angkasa? Milyaran, Adi. Hanya dengan memimpin CCG. Kamu bisa mengirimkan kepuasan dan gairah terhadap banyak orang. Lewat teknologi, otomotif, makanan, hiburan, produk kebersihan. Kamu punya segalanya dan bisa melakukan apa pun.”
Ucapan kamu punya segalanya di telinganya hanya menjadi kata lain kamu tidak punya apa-apa.
“Pak Gantari, saya itu mau…”
“Jadi profiler dan Pak Habibi itu beda sekali, lho. Kamu belum mematangkan mimpi. Turuti saja kata-kata papimu, okey.”
Harusnya aku tahu kalau nggak akan ada yang mendukungku di rumah sialan ini. Sebaiknya aku cari guru privat dari luar, batinnya kesal.
“Adi,” panggil Olaf. “Kamu itu sudah pintar. Tak perlu cari guru lagi. Aku yang belum pintar saja kepala sudah mau meledak karena kebanyakan belajar.”
“Itu semua karena Olaf bebas melakukan apa saja! Kalau aku tidak, lho. Di rumah ini aaku harus terus memberontak untuk melakukan yang harus kulakukan dan yang ingin kulakukan. Olaf nggak akan pernah mengerti.”
Bebas, ya, batin Olaf menatap Adi yang segera berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
“Wah wah wah.”
*
Kamu adalah sampah. Kamu harus ke pendauran ulang agar berguna.
Seperti kata Papi, kamu hanya amunisi. Kamu nggak akan pernah bisa bebas, Adi. Dari dosa-dosamu. Dari cengkraman ingatan orang-orang yang sudah kamu bunuh.