Musim ujian kenaikan semester telah berakhir. Semua siswa Indonesia bahagia menyambut libur tahun baru. Termasuk Adi dan Olaf.
Olaf mengungkapkan kekagumannya pada tekad Adi untuk berubah dan mengurangi konfrontasi dengan Blenda. Adi sendiri mengungkapkan kekagumannya pada daya adaptasi Olaf dengan sistem belajar Halayuda.
Setengah tahun kurang terakhir Adi lebih membuka pikiran. Memperdalam ilmu agama. Meridhoi semua yang terjadi dalam hidupnya.
Ia merasa hatinya mati, namun di sisi lain ia merasa lebih baik. Karena tak ada yang perlu dikorbankan. Ia rela hidup dan matinya untuk takdir yang telah Allah suratkan. Mengikhlaskan segalanya akan memudahkan segalanya.
Tepat sebelum ujian kenaikan semester, ia resmi dilantik sebagai ahli waris Blenda dengan jabatan direktur muda. Kecakapan dan kepiawaiannya dalam menjalankan tugas mengundang decak kagum semua orang.
Di libur akhir tahun. Adi rehat sejenak dari rutinitasnya dan menikmati akhir tahun seperti remaja normal.
*
“Libur telah tiba, libur telah tiba, hore, hore!” dendang Mac ceria menuju kamar Adi. Cklek. “Mas Adi, aku masak makaroni,” beritahu Mac.
Adi tengkurap di atas kasur. Mengabaikan kedatangan adiknya.
“Mas nggak mau nyoba masakanku,” ucap Mac bernada sedih. Ia bertekad mendapat perhatian dan limpahan kasih sayang kedua kakaknya selama liburan. Bagaimana pun caranya.
“Mau, tapi Mas lagi capek banget. Nanti aja, ya.”
Mac menarik sebelah tangan Adi. “Hiks hiks hiks, Mas pasti nggak mau. Kayak Papi dan Mami. Oh, mungkin Mas marah karena aku tidak mau jadi pewaris Papi. Iya, ‘kan? Mas pasti benci sama aku!”
Adi bangkit dan memeluk Mac. “Mas hanya sedang banyak pikiran. Mas tidak mau sampai melampiaskannya pada Mac. Maaf ya kalau Mas sudah menyakiti Mac.”
Wajah anak itu langsung berubah 180o. “Ayo!”
*
Hari ini perasaan Olaf buruk. Ia, dengan hatinya yang lemah, tak bisa merasakan kebahagiaan memikirkan mental state Adi. Sejatinya Adi ingin menikmati hidup seperti remaja pada umumnya. Tapi, ia terlanjur dibentuk oleh cetakan yang salah.
Adi manusia yang hidup menjadikan depresi sebagai teman sejati.
Sekarang saat ia hanya ingin menyendiri menikmati liburan. Ia harus memasang wajah kode etik sialan.
“Kamu disuruh nyobain juga,” tegur Adi menarik kursi di sisinya.
Olaf terkejut melihat Adi. Tampilannya semakin formal saja dari hari ke hari. Ia sudah tak pernah menggunakan pakaian santai yang dulu kerap ia curi-curi pakai. Sepanjang hari yang ia kenakan hanya stelan berkemeja dan dasi.
“Aku senang ketemu kamu,” tatap Olaf nanar. Sejak kesibukan Adi meningkat mereka jarang bertemu muka.
“Aku juga,” balas Adi ramah.
Ditarik dasi ungu strip merah Adi. “Pas libur jangan pakai beginian, dong. Merusak suasana.”
“Udah kebiasaan. Kayak bapak-bapak, ya?”