Hari ketiga liburan Adi.
Setelah sholat Shubuh ia hanya bermalas-malasan di kasur. Ia ingin merenungkan banyak hal. Ia ingin benar-benar tulus menerima takdir. Agar tak ada lagi yang merendahkannya.
Dihadapi dirinya sendiri di depan cermin. Selesai mandi, berpakaian ala eksmud dengan stelan Brioni Vanquish II seharga US$ 43.000. Ia akan bangkit.
“SAYA ADI HALAYUDA. GANTENG, PINTAR, KEREN, PERCAYA DIRI, BERTANGGUNG JAWAB. DIREKTUR MUDA CCG. SIAP MENGEMBAN TANGGUNG JAWAB DEMI KEMAJUANNYA!”
Uhk uhk uhk.
“Juga demi semua karyawannya,” lanjutnya. Pelan.
“Huufft, pemimpin adalah budak dalam selimut. Semoga aku bisa memenuhi harapan Papi tanpa perlu jadi semenyebalkan Mulya.”
Dok dok dok.
“Mas Adi, sarapan, yuk,” ajak Olaf.
Mendengar suara adiknya menyingkirkan seluruh mood buruknya. Dihampiri suara itu tanpa sempat mengganti pakaian.
“Mau ke mana kamu?” tanya Olaf. Terperangah menatap Adi yang tampak tiga tahun lebih tua dari Raja.
“Hijrah ke mental state yang lebih baik,” jawabnya yakin.
*
Ruang makan.
“Mami mana?” tanya Mac ke pelayan yang menyiapkan sarapan.
“Nyonya sedang ikut perkumpulan PKK.”
“Cih, buat apa sih Mami ikut begituan. Kayak kurang sejahtera aja.”
“Mac kok bicara begitu?” tegur Adi. Menarik kursi di sisi Mac.
“Aku gak mau jadi koki, Mas,” kata Mac. Mengaduk-aduk nasi uduk.
“Kenapa?” tanya Adi.
“Kemarin aku bawa masakanku ke sekolah. Kubagikan ke semua orang. Begitu teman-teman cowokku tau aku yang masak langsung dikatai seperti perempuan. Aku sedih, Mas.”
“Ini era persamaan gender. Koki bukan profesi perempuan aja. Chef kita aja laki-laki,” nasihat Adi.
“Iya, tapi moodku udah ilang.”
“Masa menyerah? Teman-temanmu iri sama kelebihanmu. Guru-guru PASTI muji, ‘kan?” tanya Adi. Ia membatin, sampai gak muji, bakal kututup sekolahnya.
“Iya, sih. Tapi….”
“Mas,” panggil Olaf yang duduk di depan Mac, “Mac masih kecil.”
“Padahal Mas pengen nyicipin masakan Mac sebagai koki profesional. Sekarang cita-cita Mac apa?”