Olaf menyetel Piano Concerto No. 1 in B-Flat Minor Op. 23 – Allegro non troppoby Tchaikovsky di kamarnya yang berdesain vintage.
Kursi panjang berwarna hijau tua. Karpet beludru. Figura-figura klasik menempel di dinding ber-wallpaper putih keemasan membingkai kenangan lama cinta Blenda dan Cempaka. Chandelier kristal menggantung di langit-langit. Ruangan diisi furnitur antik yang didominasi warna cokelat dan emas.
Sangat tua, dingin, sekaligus berkesan. Ruangan itu ruangan kenangan pemiliknya.
Ia menari mengikuti alunan musik. Melepas seluruh pikirannya menembus langit-langit. Menuju langit. Ia ingin semua benda di ruangan itu mengetahui kebahagiaan dan rasa syukurnya. Ia terus menari tanpa….
“Sudah selesai euforianya?” tanya Adi.
Napasnya mendengus, tapi segera dilahirkan kembali senyum menghiasi wajah. Dihampiri Adi yang mengenakan stelan Kiton.
“Kalau mau dansa nanti saja. Sama aku di hall,” bisiknya.
Olaf tersenyum kecil. Ditinju dada cowok itu. Keduanya melangkah menuju ruang makan. Malam ini Halayuda et Pelagus Residentiae Mansion mengundang keluarga Danadyaksa untuk makan malam. Sekaligus membincangkan kelanjutan nasib anak-anak kebanggaan mereka.
“Yang harus hadir di makan malam ini kan hanya kamu. Aku sama Mac mau nunggu di ruang bermain.”
“Ayolah. Aku nggak mau menghadapi anak nyebelin itu sendirian.”
“Padahal selama ini kalian terlihat dekat. Kalian kan ber-sa-ha-bat.”
“Cih, politik apa lagi yang dia mainkan sekarang. Aku benar-benar nggak suka dia. Nggak akan kubiarkan keturunanku berhubungan lagi dengan keluarganya.”
“Adi, ayo, Nak, tamu kita sudah menunggu,” panggil Cempaka yang tampil mewah dengan gaun velvet emas ketat membungkus tubuh dengan atasan model kemben. Rambut pendeknya dikeriting dan dipasangi aksesoris berkilauan.
“Mami, Olaf ikut, ya,” pohon Adi.
“Olaf temani Mac belajar saja ya, Sayang,” kedipnya ke Olaf.
“Baik, Mi.”
*
Sepanjang dinner, Blenda asyik bercengkrama dengan Dewa Danadyaksa, ayah Mulya. Dan Cempaka asyik dengan Emerald Danadyaksa, ibu Mulya. Mulya sendiri sesekali berusaha masuk dalam obrolan kedua orang tuanya.
Satu-satunya anak di depannya hanya memasang wajah kecut. Ia tetap bersikap elegant. Mengabaikan respon tuan rumah yang ia nilai sangat kampungan.
“Rencana Mulya setelah ini apa?” tanya Blenda.
“Saya akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Universitas yang mudah dimasuki saja,” jawabnya dengan senyum super elegan.