Nila akan melanjutkan pendidikannya ke Bandung. Irfan berniat menggenjot aktivitas pacarannya sebagai persiapan LDR.
“Assalamualaikum.”
“Innalillahi!” respon Irfan melihat Adi nangkring di depan pintu rumahnya. “Ya ampun, bro, sudah berapa lama kamu di sini?” tanya Irfan mendorong punggung Adi ke ruang tamu.
“Baru sampai. Gimana kabarmu?” tanya Adi.
“Nggak usah basa-basi, bro. Lagi sibuk aku hari ini,” jawab Irfan terusik.
Adi segera kembali mendirikan tubuh. Merasa kedatangannya jauh-jauh dari Jakarta sia-sia.
Irfan segera menariknya agar kembali duduk.
“Sori, bro. Ada apa?” tanya Irfan.
Adi menutupi wajah dengan telapak tangan. “Kamu mau kuliah ke mana?” tanya Adi.
“Universitas Semen,” jawabnya dengan wajah cerah berbinar.
“Tidak ke luar negeri?” tanya Adi gundah mendengar jawaban sahabatnya.
“Buat apa? Di Indonesia banyak universitas berkurikulum internasional yang bagus. Aku mengambil Double Degree di UGM. Jauh dan repot, sih. Di sanalah serunya,” jawab Irfan percaya diri.
“Kupikir musisi sepertimu akan melanjutkan pendidikan seni ke luar.”
“Aku ingin keluar dari zona nyaman. Aku ingin belajar dengan keras untuk sesuatu yang baru. Agar hidup tidak monoton.”
Kedua mata Adi tampak kosong dan hampa. “Monoton, ya.”
“Di, ngobrol sambil jalan-jalan, yuk,” ajak Irfan.
*