Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #77

76: Pendekatan

 “Sayang, kamu lagi di mana sekarang?” tanya Irfan gugup. Sejak kedatangan Adi ia lupa punya pacar.

“Udah di depan gedung Sate, nih.”

“Duuh, Sayang, aku minta maaf, ya. Kemarin Aldy datang ke Sidoarjo. Terus aku lupa aku udah bukan anak SMA.”

“Aldy yang ternyata Adikara Halayuda itu?”

“Iya, benar.”

“Khi khi khi, lucu, deh. Akhirnya Elsa bisa pacaran sama idolanya. Salam ya buat Aldy dan Elsa. Kalau senggang aku mungkin akan main ke Jakarta.”

“Iya, Sayang. Kamu jangan selingkuh, ya.”

“Nggak, dong. Karena kamu adalah penantian terindahku.”

“Itu dialogku, Sayang.”

“Kamu tidak malu phone-love sama cewekmu depanku gitu?” tanya Adi.

“Apa kamu akan malu menunjukkan cintamu ke seluruh dunia?” tanya Irfan balik.

“Semakin ke sini hubunganku sama Olaf semakin dibatasi. Dia ikut bimbel. Di rumah ada guru privat. Semua diawasi. Kami tidak boleh keluar dari protokol Papi atau Papi akan melakukan hal tidak terduga lain.”

“Ngomong soal Danadyaksa Boy yang kamu ceritakan kemarin… aku baru ingat. Dia teman TK-ku.”

“Serius? Terus?”

“Anaknya eksentrik banget kalau tidak mau dibilang aneh. Cara bicaranya sejak dulu sangat manipulatif dan memikat. Kayak pria dua puluh tujuh tahun yang terperangkap dalam tubuh balita. Mungkin hanya pet peeve.”

“Ternyata memang mencurigakan.”

“Sebaiknya kamu bentengi semua hal yang kamu miliki darinya. Salah-salah, orang tuamu pun bisa lebih mendengarnya.”

Glukh.

“Kamu nggak mau kehilangan rumahmu lagi kan, Di?”

*

“Aku benar-benar suka cewek cepat tanggap. Mempersingkat pembicaraan,” buka Mulya dari jok kemudi.

“Kamu aneh, Mulya. Tidak tahu malu,” respon Olaf dari jok belakang. Ia menempelkan pelipis kirinya ke kaca jendela dengan raut tanpa selera.

“Aku juga suka cewek apa adanya. Katakanlah semua keluhanmu soal diriku. Aku akan menerima dengan lapang dada.”

“Kamu pikir aku tertarik pada pernikahan bisnis?”

“Aku tahu semua tentang kamu, Olaf. Kamu rendah hati. Sangat rendah hati. Aku tahu kamu tidak rumit. Tapi, inilah dunia kami. Ada banyak kebohongan, sandiwara, taktik, bahkan drama. Realita nggak lebih sederhana timbang cerita.”

“Adi tidak serumit itu. Hmm, tidak juga, sih.”

“Apa kamu pikir Adi benar-benar mencintaimu?”

Lihat selengkapnya