Tujuh tahun kemudian.
Adi berhasil menyelesaikan pendidikan master of business administration di luar negeri dan menyandang gelar MBA dari Harvard Business School.
Tak ada kebahagiaan ia rasakan saat berhasil mendapatkan itu semua. Satu-satunya kebahagiaan hanya saat Blenda mengizinkannya pulang.
Ini hari berkesan. Langsung pulang pakai supir sepertinya akan terasa kurang greget.
“Tuan Muda?” tanya Dion pada tuan mudanya yang sudah berusia seperempat abad.
“Mas Dion pulang saja deh bawa barang saya. Saya mau pakai taksi online,” ucap Adi.
“Lama di luar negeri sepertinya membuat Anda lupa watak Tuan Besar,” balas Dion.
Adi tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang bersih dan rapi. “Iya, kangen dimarahin sama Papi.”
“Baik, Tuan Muda. Resiko silahkan ditanggung penumpang, ya.”
Hiruk pikuk dan panas Indonesia ramah menyapa tubuhnya. Tujuh tahun lalu ia pergi. Selama itu juga tak kembali. Ia berpisah dengan Mulya setelah menamatkan S2 di Yale.
Ia buka gawai dan menatap foto-fotonya selama berkuliah di Yale.
Seperti permintaan Mac, ia mengalahkan Mulya dalam segala hal. Berlagak membenci. Menciptakan jarak sejauh mungkin. Berusaha mengasingkan. Namun, ia sadar semua hanya perwujudan ego yang memuakkan.
Ditatap satu-satunya foto bersama Mulya saat wisuda. “Kangen juga ternyata. Sebenarnya kamu bukan orang yang jahat.”
Tanpa permintaan Mac mereka pasti akan jadi sahabat dekat. Secara mengejutkan ternyata ia dan Mulya memiliki kesamaan dalam banyak hal.
Taksi online yang ia pesan tiba. Ia tak sabar kembali menelusuri jalanan macet ibukota.
Panas. Debu. Hiruk pikuk. Semua kenangan meski tak banyak.
“Selamat siang, Mas,” sapa Adi ke pengemudi.
“Selamat siang, Kak,” jawab pemudi itu datar.
“Mas masih kuliah, ya. Kelihatannya muda banget,” tanya Adi ramah seraya memakai sabuk pengaman di kursi penumpang depan.
“Iya, masih kuliah,” jawab pengemudi itu bernada ketus.
“Senggang, ya. Masih bisa cari nafkah. Hebat,” puji Adi menatap pemandangan di luar jendela.
“Bukan senggang. Memang butuh untuk membiayai hidup. Kakak pikir semua mahasiswa hidup enak dengan kelimpahan materi seperti Kakak apa?” tanya pengemudi itu semakin sengak.
Adi reflek menoleh mendengar jawaban tajam pengemudinya. Menyadari sesuatu yang menyentak dunia beserta isi-isinya.
“Mac-Maccaron...?”
“Iya. Mas ceroboh banget, sih. Gak dibaca nama pengemudinya,” balas Mac sewot.