Adi sudah tidak peduli pada CCG. Prioritas Aron menurun dari 45% menjadi 25%.
75% pikirannya sekarang dipenuhi pertanyaan mengapa, mengapa, dan MENGAPA. Sudah tujuh tahun ia berpisah dengan ratu pemilik istana hati. Selama itu tak sekalipun mereka diizinkan semesta menyambung realita.
Sekarang ia “pergi”.
Blenda baru mengizinkannya pergi saat jam makan siang. Ia langsung menuju kafetaria kantor CCG untuk menemui pujaan hatinya.
Pujaan hati yang edang mengusap air mata Mulya.
“Eh, Mas Adi sudah pulang. Sampai jam berapa? Aku pesanin makanan, ya. Ngobrol aja dulu sama Mulya.”
DUAASH. Tak ada yang perlu dibicarakan antara lelaki. Mereka bicara dengan otak atau otot.
Mulya menghapus darah di ujung bibir. “Adi, kenapa kamu?”
“Dasar munafik. Berlagak baik padahal busuk.”
Olaf membantu Mulya berdiri dan menepuk-nepuk punggungnya lembut. Dengan wajah tenang meminta pengunjung kafetaria lain mengabaikan keberadaan mereka.
“Mulya, aku minta maaf soal kejadian ini. Sebaiknya kamu pulang. Akan aku hubungi lagi sepulang kerja.”
“Untung ada Olaf,” bisiknya ke Adi sebelum beranjak pergi.
*
Pantry.