“Setelah semua yang terjadi. Apakah perasaanmu padaku masih benar-benar sama?” tanya Olaf di balik veil putihnya. Berdiri membelakangi sang mempelai pria. Menatap ke luar jendela dengan beragam cahaya yang terlihat di luar sana. Sungguh mempesona.
“Kita lihat saja nanti malam,” jawab Adi tanpa melihat wajahnya.
“Adi, kamu adalah seorang laki-laki yang penuh dengan kejutan. Kira-kira hal mengejutkan apa lagi gerangan yang sedang kamu siapkan sekarang?” tanya wanita itu sedikit menolehkan wajah. Menatap pria bertubuh tinggi tegap yang berdiri tegak di belakangnya.
“Kalau bisa mengucapkan akad dalam satu kali percobaan… mengejutkan atau nggak?” tanya Adi tiba-tiba informal. Sedikit merusak kesakralan yang tengah berusaha wanita di dekatnya bangun. Lewat untaian kata-kata penuh metafora
Haaahh. Olaf menghela napas tanpa suara. Ia pejamkan kedua mata. Berkata, “Adi… aku sedang serius.”
Tep. Adi pun mendekat satu langkah ke tempat di mana punggung seseorang yang sekian lama telah menjadi tempat untuknya menggantungkan harapan. Menjadi rumah untuk seluruh penantian.
Membalas dengan kata, “Selama kuliah aku terus berusaha memikirkan beragam kemungkinan tentang bagaimana cara paling bijaksana untuk menjalani hidup penuh tipu daya ini tanpa dirimu.”
Olaf bertanya, ”Lantas apa kamu menemukan jawabannya?”
Adi tidak langsung menjawab, ”…”
”Mungkin pertanyaannya harus diganti,” koreksi wanita itu, ”Kesimpulan apa yang kamu dapat dengan memikirkan hal seperti itu selama bertahun-tahun?”
Adi menundukkan kepalanya tepat di belakang veil putih yang melapisi bagian terluar dari hijab sang mantan teman… maksudnya sahabat SMA-nya itu kenakan.
Dengan suara lirih nyaris tidak terdengar ia menjawab, ”Ternyata aku sama sekali tidak mampu. Satu-satunya yang aku sadari dan pikirkan sejak awal tidak pernah berubah. Hanya jadi semakin kuat dan tidak terelakkan.
“Aku ingin kamu tetap ada di sampingku. Untuk selamanya. Tak peduli seberapa sulit jalan yang harus aku lalui. Untuk kini dan selamanya.”
“…”
”Apa salah…? Apa pikiranku berlebihan? Apa membuat kamu merasa tidak nyaman? Katakan saja semua yang ingin kamu utarakan, Sayang,” tanya sekaligus pinta pria itu.
Di bagian akhir sedikit khawatir kala harus memanggil wanita yang begitu ia kasihi dengan sapaan tidak biasa.
Bagaimanapun juga kan… hubungan mereka… Ah.
“Sejak kapan kamu memiliki pemikiran semacam itu, Anggabaya Reagan Slaine?” respon Olaf balik tanya. Melakukan hal yang lebih tidak terduga. Memanggil ia dengan identitas lama… maksudnya identitas aspal. Asli, tapi palsu.
“Sejak bertemu dengan kamu di ruangan Bu Kholifah pada hari itu. Ya, Elizabeth Arkandina Arkadewi, aku sudah menyukai dirimu sejak saat itu.”
Adi bergerak ke hadapan wanita itu. Menatap pujaan jiwa yang terbalut gaun putih penuh renda. Tampak elegan serta mewah walau tampak sederhana.