Hal yang tak pantas bagi seorang manusia adalah melakukan kejahatan. Tetapi berbeda dengan dirinya. Seorang yang terlahir dari kemiskinan membuatnya harus berjuang melawan kehidupan. Ia membawa senjata di pinggangnya. Pistol yang lusuh dan dekil. Keris yang terselip di punggungnya juga tak terlupakan untuk menumpahkan darah. Tetapi siapa sangka kedua senjata itu yang dapat menyambung hidupnya. Seorang anak muda yang masih cukup muda. Kira-kira berumur tujuh belas tahun. Ia dikenal sebagai pembunuh bayaran professional. Kota besar yang membakar dirinya untuk bertindak sebagai penjahat kelas kakap. Ia memiliki tubuh tinggi, jangkung serta kurus. Perawakan yang cukup lincah dan solid seperti ular yang menerkam. Ia tak kenal takut atau mati. Polisi yang berjuang untuk menangkapnya selalu gagal dan tak berkutik. Ia bukan sembarang manusia. Manusia yang memiliki kekuatan supernatural. Atau lebih tepat ia memiliki praba yang luar biasa kuat hingga senjata buatan manusia tak mempan terhadap tubuhnya. Dikenal sebagai penjahat bayaran dikalangan pejabat membuat dirinya semakin ditakut oleh siapa saja. Sekarang ia akan menunjukkan dirinya. Ruangan yang luas dengan tempat duduk bersofa lembut dan empuk menghiasi. Ia duduk sendiri sambil menonton tv dengan acara berita korupsi yang merajalela. Dahinya mengerut. Matanya memicing seolah-olah ia bertindak untuk menggorok leher para koruptor. Namun ia tak boleh menunjukkan dirinya sebagai penjahat yang dicari polisi. Hal yang tak baik adalah menjadi terkenal. Karena ia tak mau terkenal layaknya seorang selebriti. Lebih baik ia menikmati apa yang sudah menjadi jalan hidupnya. Wajahnya mulai tersenyum ketika ia menegak sebotol coke. Matanya menatap pada jendela rumah mengamati awan-awan pagi yang mulai menampar. Ia dikenal dengan nama Rop. Atau Suropati. Menonton berita di tv merupakan rasa ingin tahunya tentang kebejatan para pejabat yang tak bisa memegang amanah. Rasanya ia tak menyesal tentang apa yang dilakukannya, karena ada yang lebih berdosa dari dirinya. Yaitu para koruptor, mereka adalah perompok negeri yang lebih bejat dari pembunuh atau bajingan sekalipun. Pikiran mereka seperti penjilat yang memuaskan dirinya. Tak ada yang dapat menghentikan mereka kecuali kematian yang mengerikan. Apakah pagi ini ia membiarkan diri tenggelam dalam perasaan mengasihi diri sendiri dan kebimbangan? Renungan semacam itu jarang dilakukannya, tapi ia mengikuti kata hati setiap kali perasaan aneh membungkam dirinya. Rasanya bimbang dan ragu yang sama sekali tak pernah ia rasakan selama tiga tahun ketika ia terjun di dunia hitam ini. Rop tinggal di rumah sendiri. Tak ada keluarga atau kerabat yang mengasihi dirinya. Mereka tak pernah menganggap Rop ada di dunia ini. Ketika kedua orang tuanya meninggal, seluruh kerabatnya tak mau mengurusinya. Ia hidup sebatang kara bagai pemuda malang tanpa tujuan. Namun ia bangkit hingga akhirnya ia menjadi pembunuh yang seperti hantu tanpa ada yang tahu siapa dirinya. Itulah sebabnya ia lebih berbahaya dari pembunuh professional lainnya. Bakatnya muncul ketika ia pertama berhasil membunuh macan di hutan. Rop kala itu dibuang keluarganya di hutan yang cukup mengancam. Berada jauh di rimba Kalimantan, ia hidup dalam pembuangan. Rop masih remaja ketika ia hidup rimba Kalimantan. Namun ia tak lama berada, karena setelah ia membunuh macan di hutan. Seorang pengusaha dari Surabaya, membawa dirinya untuk dijadikan ajudan atau bodygourd. Rop hidup dalam bayangan kegelapan. Ia tak pernah tahu bahwa dirinya telah membunuh lebih dari dua puluh orang. Ia tak tahu orang itu bersalah atau tidak. Namun yang pasti semua koruptor yang sudah merugikan negara. Tak ada salahnya bila ia tidak begitu terkenal. Karena ia memang sudah menyembunyikan rahasianya. Ia hidup sendiri bagai orang tahu siapa dirinya. Terkenal bukan jalannya. Tetapi bisa memberikan pelajaran untuk mengkikis kebejatan adalah hal yang ia nantikan. Rop kembali menegak air coke lagi. Kemudian ia bergidik ketika menyaksikan berita di televisi. Berita itu memberitakan tentang korupsi uang negara dua trilliun. Tangannya mengepal geram karena pejabat itu hanya di hukum dua belas tahun penjara. Rop mengedikkan bahu. “Seharusnya koruptor itu di hukum mati,” desis Rop tajam. “Dia pantas mati. Mungkin digorok lehernya. Dan ditayangkan di televisi sebagai balasan kejahatannya.” Sorotan matanya dingin layaknya pembunuh keji. “Hal yang tak pantas,” kata Rop geram. “Korupsi bukan di bui melainkan hukum mati. Indonesia adalah Pancasila. Maka korupsi wajib hukum mati.” Tangannya memegang keris dan menatapnya dalam-dalam. Rop bergidik ketika smartphone miliknya berbunyi. Tangannya langsung meraih smartphone itu dan mengamati nomer yang tak kenal. Namun ia tak peduli dan langsung mengangkatnya. “Halo,” kata Rop dingin. “Siapa ini?” Tapi tetap tak ada yang menjawab. Karena itu ia menaruh kembali smartphone di meja. Dan smartphone kembali berdering. Rop mengeryitkan dahi. Dengan kasar ia kembali mengangkat panggilan itu. “Halo,” kata Rop dingin dan sengit. “Siapa ini?” Terdengar lagi dengungan yang tadi. Kedengarannya seperti jauh sekali, di tempat yang sunyi. Kemudian menyusul suara seperti tergagap, seolah-olah yang sedang berbicara itu sudah lama tidak biasa berbicara lagi - tapi ingin sekali mengatakan sesuatu. “Halo,” ulang Rop sekali lagi. “Siapa ini?” Suaranya dingin, geram dan sengit. “Jangan -” kata suara itu, lalu setelah terdiam sebentar, seperti mengumpulkan tenaga, disambung dengan sepatah kata lagi. “'- datang,” kata suara itu. “Jangan... datang!” Kalimat itu berakhir dengan desahan panjang. Terdengar lagi dengungan aneh yang tadi. “Jangan datang ke mana?” tanya Rop pada suara itu. Tapi panggilan smartphone tetap membisu. Hanya dengungan saja yang terdengar. Rop kembali menaruh smartphone itu diatas meja. Rop kembali menyaksikan berita di tv. Namun ia masih terpikirkan oleh suara panggilan tadi. “Jangan…datang,” desis Rop dingin. “Apa maksud suara panggilan itu? Memang jangan datang kemana?” Seperkian detik ia bangkit. “Sial,” umpatnya. “Siapa yang mengangguku pagi-pagi begini?” Rop melangkah mendekat pintu kaca didepannya. Ia melihat dua burung yang memadu kasih. Burung jantan tampak menggoda burung betina dengan suaranya. Hingga sang burung betina tergoda. Rop menyungggingkan senyum bodoh mengamati tingkah kedua binatang itu. Hingga akhirnya ia mendengar bunyi perutnya keroncongan. “Lebih baik aku cari makan,” kata Rop mendengus. “Tak usah dipikirkan tentang panggilan itu. Mungkin itu hanya salah sambung.” Rop memakai jaket hitam dan bergegas keluar dari rumah. Memakai topi dengan symbol delapan keris melingkar. Udara pagi memang sangat menyegarkan. Apalagi ia memang suka berjalan-jalan bila pagi hari. Ditambah lagi ia tinggal di desa terpencil di pinggiran kota besar. Layaknya penduduk biasa ia memiliki tanah luas dan kebun buah yang dikerjakan oleh para warga sekitar. Rop memberi pekerjanya dengan gaji yang sesuai ump daerahnya. Tak ada pekerja yang diperlakukannya kasar dan sadis. Mereka perlakukan layaknya manusia yang mencari kebutuhan hidup untuk menghidupi keluarganya. Rop mengeluarkan sepada miliknya. Tak lupa ia membawa smartphone disakunya. Dan memakai earphone untuk mendengarkan music kesukaannya. Tentu saja lagu Koesplus yang memberikan daya tarik tersendiri. Rop mulai memacu sepeda meninggalkan halaman rumahnya. Rop disapa warga sekitar dengan panggilan Soma. Warga sekitar menyebutkan begitu karena ia layaknya bulan purnama yang memberi harapan bagi warga miskin disekitarnya. Ia selalu memberi bantuan pada siapa saja yang membutuhkan tanpa memungut bayaran. Bahkan ia pernah menyelamatkan ibu hamil yang tak tergelatak di pinggiran jalan karena tak ada seorangpun yang menolong. Dengan mobil SUV miliknya, ia membawa ibu hamil itu segera ke rumah sakit. Pertolongan cepat dari Rop memberi cahaya bagi keselamatan ibu dan anaknya. Rop melaju sepedanya perlahan-lahan menyusuri lorong gang. Warung yang biasa menjadi tujuan tak jauh dari rumahnya. Tetapi ia harus menyusuri beberapa gang agar dapat menikmati warung sederhana milik Bu Surti. Bu Surti adalah ibu paruh yang membuka warung di sekitar desanya. Makanan yang disajikan adalah gudeg, serta kikil, ayam goreng geprek yang beri sambal kacang pedas cukup menggoda lidah. Setelah lima belas menit bersepeda akhirnya Rop tiba di warung Bu Surti. Senyuman Bu Surti menyambut kedatangan Rop. Dia memang ramah dan supel. Dia seorang janda yang menghidupi dua anak perempuan masih duduk di bangku sekolah. Anak pertama masih kelas satu SMA. Dan satunya lagi kelas dua SMP. Bu Surti mengedikkan bahu. “Nak mas Soma,” kata Bu Surti. “Makanan apa kali ini?” Rop mengamati etalase yang menyajikan lauk pauk serta sayuran. “Biasa mbok!” kata Rop. “Gudeg dan ayam geprek. Nasinya seperempat piring saja.” Bu Surti menganggukkan. Dia segera menyiapkan pesanan Rop. Rop menikmati gorengan tahu isi mie yang tersaji di mejanya. Ia cukup nyaman menyantap gorengan itu. Hingga segelas teh hangat tiba dahulu untuk menyegarkan tenggorokannya. Rop menegak teh hangat itu. Seperkian detik ia mengedikkan bahu. “Sepi amat disini, mbok!” kata Rop mendengus. “Biasa ramai sekali.” “Mungkin mereka masih sibuk,” kata Bu Surti. “Apa nak mas Soma tak dengar kabar burung?” Rop terkesiap. “Kabar burung!” ulang Rop parau. “Kabar burung apa,mbok?” “Desa sebelah sedang geger, nak mas!” kata Bu Surti. “Sebuah mayat ditemukan di semak-semak kebun warga. Mayat itu seorang wanita tak dikenal.” “Mayat wanita,” ulang Rop memikirkan. “Sepertinya kabar itu belum sampai di telingaku. Lalu apa yang terjadi?” “Polisi membawa mayat itu untuk diotopsi,” kata Bu Surti. “Tetapi menurut warga sekitar memang semalam terdengar jeritan melengking aneh. Kemungkinan suara mayat wanita itu.” “Tak usah dipikirkan mbok!” kata Rop tenang. “Biarkan itu menjadi urusan polisi. Kejahatan bersenjata adalah urusan polisi. Kita warga sipil hanya membantu bila mengetahui kejahatan dijalankan.” Makanan Rop mulai tiba di mejanya. Bau harum gudeg mulai menyambar hidungnya. Ia tak sabra untuk segera menyantap gudeg itu. Suap pertama bagai gelombang rasa menerjang hidupnya. Tak disangka ia bisa tersenyum simpul ketika ledakan rasa menghantam seluruh indranya. Gudeg Bu Surti memiliki kekhasan tersendiri. Rasanya memang sangat menggoyang lidah. Ditambah lagi daging ayam kampung yang empuk sekali ketika disantap bagai gempuran rasa yang menghantam seluruh indra. Ayam geprek yang pasti empuk tak lupa disantap Rop. Gigitan pertama begitu lembut dan empuk. Bumbu rempah-rempah yang menyatu dalam daging ayam itu seperti pedang rasa yang merobek indra. Sambal kacang yang cukup pedas menambah selera makannya. Rop bisa merasakan dirinya melayang dalam imajinasi rasa yang sesungguhnya. Rop mulai nyaman menikmati setiap makanan yang disantapnya. Perutnya lega dan nyaman dari gemuruh kelaparan. Pertanda bahwa dirinya sudah bisa tenang untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Pagi ini memang Rop harus pergi ke kebun dan lahan pertaniannya. Ia akan memeriksa pekerja dan hasil buminya. Rop cukup aktif dalam dunia pertanian. Ia memang bukan pecinta alam. Tetapi ia sudah memahami bagaimana memeprlakukan alam layaknya makhluk yang butuh kasih sayang. Rop menegak segelas the hangat. Tenggorokannya terasa lega dan nyaman. Ia mengedikkan bahu. “Kemana dik Sri, mbok!” kata Rop mendengus. “Biasa pagipagi begini membantu mbok Surti di warung.” “Dia berangkat pagi-pagi sekali, nak mas,” kata Bu Surti. “Katanya ada tugas dari sekolah yang harus dikerjakan.” Rop mengangguk. “Lalu dik Laras,” kata Rop. “Apa dia berangkat pagi sekali?” Bu Surti mengangguk. “Kami cuma punya satu motor. Dan Laras selalu membonceng kakaknya untuk berangkat ke sekolah.” Rop mengangguk tersenyum. “Beruntung.” Bu Surti terkesiap. “Maksud nak mas.” “Beruntung anak-anak si mbok masih bisa sekolah,” kata Rop mendengus. “Aku sejak umur lima belas tahun sudah hidup sendiri. Mungkin hanya sampai kelas dua SMP aku bisa sekolah.” “Tapi nak mas masih muda,” kata Bu Surti. “Kenapa tidak mengambil paket saja?” “Paket,” ulang Rop bergidik. “Maksudmu mbok Surti.” “Sekarang pemerintah sudah mencanangkan system paket,” kata Bu Surti. “Bagi anak yang ingin mendapatkan ijazah tanpa sekolah formal, mereka harus ikut system paket.” Bu Surti sambil mengelap gelas dan piring yang ada di meja. “Sepertinya menarik,” kata Rop tersenyum. “Lagipula aku hanya punya ijazah SD saja. Untuk SMP dan SMA bisakan mbok.” Bu Surti tersenyum. “Bisa. Aku kenal seorang guru yang bisa membantu nak mas.” “Boleh, mbok,” kata Rop ceria. “Berapa nomernya, mbok?” Bu Surti menulis di kertas dan menyerah pada Rop. Rop mengamati nomer yang tertera di kertas itu. “Namanya Bu Aminah,” kata Rop mendengus. “Nanti aku akan segera menghubunginya. Terima kasih, mbok!” “Sama-sama,” kata Bu Surti tersenyum. Rop mengangguk. “Berapa mbok?” “Biasa nak mas,” kata Bu Surti mendengus. “Tiga puluh ribu.” Rop mengeluarkan uang dari saku depan puluhan tiga dan menyerahkan pada Bu Surti. Rop beranjak pergi dan menaiki sepedanya. “Terima kasih, mbok,” kata Rop tersenyum. Rop memacu sepedanya meninggalkan warung Bu Surti. Ia melaju cukup kencang dan hati-hati menyusuri lorong-lorong gang. Seperti biasa ia akan pergi ke kebun sebelum kembali rumahnya. Pagi ini ingin melihat lahan dan kebunnya. Siapa tahu ia bisa memetic buah segar yang sudah matang. Klengkeng salah satu buah yang cukup manis untuk dinikmatinya. Rop terkejut ketika smartphone berdering. Ia menghentikan sepedanya. Smartphone dikeluarkan dari sakunya. Ia mengamati nama di layer smartphonenya. Rop terkejut karena nama itu adalah nama seorang pejabat negera. Dia salah satu Menteri yang mengurusi pemerintah saat ini. Rop membaca pesan yang masuk melalui medsos WA. Pesan itu tertulis. “Aku ingin bertemu denganmu, di Hotel Mercure.” ***