Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #1

Bukan Tragedi Besar

Perih dan seperti terbakar. Nicha menatap pergelangan tangannya.

“Aku takut, pasti menyakitkan. Tapi, ini cara yang paling cepat.”

Perempuan itu bicara sendiri di ruang pribadinya. Sebuah kamar berdinding warna tosca yang sangat tenang dan damai. Nicha selalu suka dengan kamarnya sampai hari ini tiba.

“Kalau dia ingin menguasai semuanya, biar saja aku yang jangan pergi.”

Kali ini meski takut Nicha mengiris lebih dalam di sisi tangan yang sama. Perih dansedikit terbakarlagi, tapi kali ini Nicha menahannya.

Warna merah sudah membasahi seprei di tempat dia duduk bersandar. Beberapa kenangan indah dia munculkan sehingga senyum mengembang di wajahnya yang berkeringat dingin.

Hawa dingin kipas mulai terasa lebih dingin dari sebelumnya. Matanya mulai sedikit rterpejam, masih sambil mengingat perih yang lama-lama terbiasa dari pergelangan tangannya.

Nicha kehilangan kesadarannya seperti dia merasa akan kehilangan seluruh hidupnya saat itu. Tapi perempuan itu terlihat sangat siap dan tenang, hanya seperti rutinitas manusia yang tidur dalam rajangnya.

Suasana sedikit kacau karena beberapa orang terlihat berkerumun memperhatikan dua orang petugas medis yang membawa tubuh Nicha dengan tandu dan menutupi tubuhnya dengan selimut berwarna putih.

Luka di pergelangan tangannya tertutup perban baru meski warna merah cukup cepat merembes melewati perban. Ambulance tidak mengeluarkan bunyi sirine sampai tubuh Nicha masukl ke dalam sana.

Ruang IGD cukup riuh hari itu, dan ketika ambulance sampai di sebuah rumah sakit terdekat, tubuh Nicha langsung di bawa masuk dan dipindahkan, lukanya ditanggani oleh dokter yang sangat cekatan.

“Tidak ada luka di bagian lainnya?” Dokter itu terlihat memperhatikan jahitannya yang sudah selesai.

“Tidak Dok, tapi, pasien kehilangan cukup banyak darah. Saya akan menyiapkan transfusi satu kantong setelah ini.” Perawat terdengar mengatakan tindakan lanjutan.

“Oke, selesai dengan baik untuk saat ini. Tapi tetap awasi, pasien seperti ini biasanya cukup sering megulangi kebodohannya.” Perawat mengangguk mengerti apa yang Dokter katakan.

Yotha terdengar cukup dingin, dia berjalan melewati selubung tirai yang melingkar di tempat penangganan Nicha baru saja, dia menuju ke lobby setelah melihat sekeliling.

“Pasien itu, keluarganya dimana?” Yotha menunjuk ke arah tempat penangganan Nicha.

Lihat selengkapnya