“Hufft, aku gagal, lagi?” Kalimat yang tidak terucap itu membuat Nicha memasang wajah kesal ketika dia sudah lengkap membuka mata, melihat sekeliling berupa tirai yang memutar.
Dia sudah sangat tahu ada dimana, dan dia cukup kesal dengan apa yang dia sadari, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk memberontak lagi.
“Pagi Ibu Nicha, mungkin agak sedikit pusing atau mual?” Seorang perawat perempuan bertanya sembari memeriksa cairan infus yang sudah hampir habis.
Nicha masih diam, dia menatap pergelangan tangannya yang terbalut perban berwarna putih bersih, sepertinya luka itu cukup baik ditanggani bahkan tidak ada noda darah di luar perban menandakan kondisi luka itu puluih dengan baik.
Suara langkah kaki terdengar mendekat dan kemudian seseorang membuka tirai penutup yang ukurannya hanya sebesar tempat tidur yang ditempati Nicha.
Perempuan itu memalingkan pandangan ketika melihat seseorang yang datang dengan menggenakan jaket berwarna hitam yang sudah mulai pudar warnanya. Mereka tidak bicara sampai kemudian perawat selesai memeriksa dan keluar melewati tirai.
“Apa sih yang kamu pikirkan Mba? Memang banyak uang sampai membuat heboh di rumah begini? Tetangga repot, aku juga akan repot dengan rencana penjualan rumah.”
Nicha masih diam dia bahkan memalingkan pandangannya dari adik laki-lakinya itu tanpa bicara apa-apa.
“Pertama uang dulu untuk membereskan biaya administrasi rumah sakit. Setidaknya cepat keluar dari sini. Rumah akan butuh waktu juga untuk di jual jadi kamu bisa tetap tinggal di sana. Kamu bahkan juga bertanggung jawab membersihkan bekas dari kekacauan yang kamu buat itu.”
Kamal berucap pelan tapi kalimatnya begitu menusuk ditelinga dan hati Nicha. Perempuan itu masih diam dan tidak memberikan jawaban apa-apa.
“Kamu katakan saja aku perlu bawa barang apa, atau kamu yakin bisa meninggalkan rumah sakit ini sendirian, kamu gak punya siapa-siapa kan Mba?”
Adik laki-lakinya itu tidak berteriak, tapi sungguh tidak ada satu kata pun yang membuat Nicha berkeinginan untuk menjawab dan bicara dengan saudara kandungnya itu.
“Permisi, sebentar.” Yotha terlihat masuk dengan jas putihnya, dia baru saja menyelesaikan perawatan pasien yang baru tiba beberapa jam lalu di IGD.
Kamal terlihat menjauh dan hendak keluar dari ruangan yang sempit berbatas tirai itu.
“Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya anda keluarga dari pasien. Mohon untuk menyelesaikan administrasi di lobby. Kami butuh tanda tangan seorang yang bertanggung jawab sebagai keluarga untuk kepindahannys ke kamar rawat.” Kalimat Yotha diucapkan dengan cukup tenang.