Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #3

Terlalu Menyedihkan

“Bagaimana ada yang bisa saya bantu?” 

Suara ramah dari seorang perempuan yang terlihat cukup cantik duduk di depan Nicha.

“Dokter pasti lebih tahu daripada saya.” Nicha menatap stop map di meja yang berisi catatan medisnya. Nicha sangat tahu tentang hal-hal seperti ini.

“Ibu Nicha, atau saya panggil Nicha saja tidak apa-apa? Sepertinya usia kita tidak beda jauh.” Nicha mengangguk sebagai sebuah jawaban dari pertanyaan sederhana itu.

“Oke, saya boleh bertanya apa yang dirasakan untuk saat ini?” Risa terlihat behti-hati dalam bertanya dan Nicha merasakan hal itu.

“Kemarin saya memang cukup ceroboh, lagipula sebenarnya itu bukan pertama kalinya.” Risa terlihat terkejut sesaat dan kemudian terlihat tenang lagi.

“Boleh saya tahu ceritanya?” Risa bertanya dengan cukup santai dan juga masih berbicara dengan cukup tenang.

“Akan membutuhkan waktu yang cukup lama Dokter, maaf sekali saya cukup lapar karena belum makan apapun sejak beberapa hari.” Nicha berbicara jujur, meski sakit kepalanya sudah cukup mereda, perutnya cukup lapar terasa.

“Kalau begitu, bagaimana jika sesi ini dipindahkan ke satu jam lagi?” Risa terlihat tetap berusaha untuk membuat jadwal ulang membuat Nicha hanya bisa tersenyum dan mengangguk sedikit.

“In case, saya tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi. Bagaimanapun kami semua belajar untuk menyelamatkan nyawa orang lain.” Risa berusaha memperjelas kenapa dia bersikeras untuk sesi konsultasi dengan Nicha.

“Tapi Dokter dan tenaga medis tidak bertanggung jawab tentang hidup orang lain. Pernah tidak Dokter berfikir siapa tahu nyawa yang Dokter selamatkan sangat tersiksa jika tetap punya kehidupan?” 

Risa tersenyum sedikit karena mendengarkan apa yang Nicha katakan. Dokter yang terlihat cukup muda itu mengangguk dan sangat memahami sikap Nicha saat ini.

“Kita ketemu satu jam lagi.” Risa hanya bicara sedikit sebelum akhirnya Nicha menutup pintu ruang konsultasi dari luar. 

Nicha cukup menghela nafas, tersenyum sedikit kepada perawat yang tersenyum dan mengantarkan pasien selanjutnya. Perempuan itu kemudian menyusuri lorong yang cukup sepi, dia baru menyadari jika rumah sakit punya bangunan yang cukup bagus. 

Sampai di tempat lift dan dia masuk, sedikit merinding karena sunyi dan dia menatap tombol cukup lama untuk menduga dia harus ke lantai berapa. 

Lihat selengkapnya