Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #4

Terlalu Panik, Terlalu Tenang

 Udara dingin membuat Nicha mencoba meraih selimut yang seperttinya tidak jauh dari tubuhnya. Dia mulai sadar jika tidak menggigil. Tapi dia sangat tahu mungkin dia sedikit demam.

Nicha membuka matanya, sedikit terkejut karena berada di sebuah tempat tidur yang cukup luas dan berselimut. Baju yang dia kenakan tidak berganti, dia menduga itu masih di apartemen Dokter yang baru dia kenal satu hari kemarin.

“Rumah sakit memang tidak pernah nyaman untuk tidur.” Sebuah suara seolah menyambut Nicha yang baru keluar dari kamar.

Ragu tapi dia berjalan perlahan menuju ke arah suara itu, Dia melihat Dokter Yotha sudah duduk di sofa, yang tidak dia sangka dia menggenakan celana panjang seperti training dan kaos oblong berwarna putih.

“Dokter tidur di sofa?” Nicha terlihat merasa bersalah karena menemukan dirinya tidur di kamar pemilik apartemen.

“Um… itu karena aku tidak ingin membuat gaduh jika ada telepon mendadak.” Yotha memberikan alasan yang cukup baik dan masuk akal.

“Aku memang jarang menggunakan kamar untuk tidur.” Yotha kembali menegaskan kepada Nicha yang terlihat kurang nyaman.

“Mandilah, kita perlu memeriksa luka itu dan menganti perbannya. Setelahnya kamu perlu meneruskan sesi konsultasi dengan Risa.” Yotha mengingatkan Nicha dengan tenang.

“Jika Dokter buru-buru aku bisa ke rumah sakit sendiri nanti.” Nicha terlihat menatap sekeliling mencari tas yang dibawakan oleh adik kandungnya kemarin.

“Aku akan menghangatkan bubur, kemarin kamu juga tidak jadi makan.” Yotha sudah beranjak dari sofa dan berjalan perlahan menuju ke dapur yang terletak di sisi lain dari ruang utama.

Nicha menemukan tas di sisi sofa dekat dengan jendela besar, dia kemudian membawa ransl ke dalam kamar karena dia tahu kamar mandi hanya ada satu, di dalam sana.

Ponsel pintar Nicha terlihat menyala dan kemudian mati, perempuan itu memeriksa dan menemukan banyak panggilan dan pesan dari adik kandung serta beberapa saudara.

“Kamu dimana Mba? Tidak pulang? Jangan berbuat sesuatu yang menyusahkan aku terus!” Nicha terdiam menatap pesan dan berfikir, tapi kesedihan mengambil peran yang sangat penting membuat Nicha justru terisak.

“Nicha? Nicha? Bolehkah aku masuk sebentar? Aku hannya ingin mengambil baju ganti.” Yotha mengetuk pintu kamarnya sendiri dan masih belum m ada jawaban. 

Lima menit, sepuluh menit, setelah lima belas menit dia pada akhirnya masuk ke kamarnya sendiri yang tidak dikunci. 

Tidak ada Nicha di tempat tidur, Yotha dengan gugup menuju ke kamar mandi, tempat itu terkunci dari dalam.

“Nicha? Nicha apa kamu di dalam? Aku, aku hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja.”

Lihat selengkapnya