Rumah sakit bukan tempat yang nyaman untuk Nicha, mungkin banyak juga yang merasakan hal serupa, tapi, Nicha selalu menahan diri, tidak banyak mengeluh. Dan seperti sekarang, dia berjalan masuk menuju lobby IGD karena Risa mengarahkan dia menuju ke sana.
“Nicha?” Sebuah suara menyapa meski ketika Nicha menatap sosok laki-laki yang berada di depannya itu dia tidak mengenali.
“Dokter Maellee. Ada yang bisa saya bantu?” Nicha masih bingung tapi dia mengangguk perlahan untuk meminta bantuan.
Maellee memeriksa dengan pandangan ke arah Nicha, dia kemudian menyadari sesuatu. Perban yang terlihat sedikit kotor dan basah.
“Ganti perban?” Maellee membuat Nicha mengangguk.
“Oke, sebelah sini biar aku yang mengganti.” Maellee terlihat membuat Nicha mengikuti menuju ke ujung ruangan, masuk ke sebuah tirai yang kemudian ditarik melingkar membentuk ruangan.
“Sulit ya menghindarkan luka dari air?” Dokter Maellee terlihat lebih ramah dan hangat dengan beberapa senyum dan nada bicara yang lembut.
Nicha mengangguk perlahan dan kemudian duduk di tepi tempat tidur yang ada di sana. Maellee menarik meja peralatan kecil dan mulai membuka perban yang memang terasa cukup basah.
“Masih terasa perih atau nyeri?” Maellee bertanya sambil terus melakukan pekerjaannya. Nicha menggeleng perlahan.
“Pejamkan mata jika tidak ingin melihat bekas lukanya.” Maellee mencoba untuk membuat pasiennya tenang dan tidak panik. Beberapa orang secara psikologis akan takut dan juga sedih melihat luka yang dia buat sendiri.
Perempuan itu justru tersenyum sedikit karena kalimat Dokter yang sedang membantunya mengganti perban.
“Ada yang lucu?” Maellee bertanya kepada Nicha yang terlihat cukup santai ketika dia membersihkan luka yang terlihat mulai menutup, meski jahitannya masih begitu terlihat.
“Lukanya terlihat bagus.” Sebuah jawaban yang membuat Maellee terdiam dan berusaha tenang. Tidak biasa bagi seorang pasien memuji luka yang dia derita.
“Dokter Yotha memang begitu hebat membuat luka menjadi, bahkan nanti tidak akan terlihat buruk bekasnya.” Maellee mencoba untuk menjawab dengan hal yang tidak menyanggah atau melawan pendapat Nicha.
Tirai tersingkap perlahan dan Yotha melihat Mael sedang membersihkan luka di pergelangan tangan Nicha.
“Ada yang baru datang, demam dan juga sedikit lemas. Sebaiknya kamu tangani itu saja.” Yotha terlihat cukup serius sehingga Mael meletakkan pinset dengan kapas beralkohol dan kemudian meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Yotha menarik nafas panjang, dia duduk dan meneruskan membersihkan luka di pergelangan tangan Nicha tanpa mengatakan apa-apa.