Nicha terdiam di ruangan itu sendirian, dia tidak begitu sulit ketika datang dan membuka pintu,. Aroma pembersih lantai langsung tercium dan dia bisa melihat rumah yang cukup rapi dan sudah dibersihkan.
“Rumah akan tetap dijual, bagaimanapun akan tetap begitu.” Nicha bergumam tertahan, menatap seluruh ruangan setelah listrik menyala.
“Dia hanya butuh uang, aku juga butuh, lantas kenapa harus dijual? Bukankah bekerja selama ini begitu menghasilkan?” Nicha terdengar kesal dengan suara kerasnya.
Hidupnya memang tidak mewah, dia hanya seseorang yang berkebun dan bekerja di rumah itu. Halaman belakang rumah dan juga depan sudah menjadi ladang penuh dengan tanaman yang bisa dia tukarkan dengan cukup uang.
Perkara kebutuhan sehari-hari dan tabungannya cukup, meski tidak banyak. Hanya saja, adiknya perlu banyak uang untuk keluarga kecilnya. Nicha merasa cukup egois dengan apa yang dia pertahankan.
“Sudah pulang Mba?” Sebuah suara membuat Nicha mengusap pelan pipinya yang sedikit basah, dia tersenyum menatap seseorang yang menyapanya. Ada sekitar tiga orang yang masuk melalui pintu depan yang memang rtidak dikunci ketika dia datang.
“Sudah.” Nicha menjawab perlahan dan kemudian seseorang dari mereka memeluk Nicha seolah sedang mengalirkan energi baik untuk perempuan itu.
“Jika ada masalah kamu bisa bicarakan denganku, dengan kita.” Nicha hanya tersenyum sedikit dan kemudian menatap tiga orang perempuan yang ada di sana.
“Kalian tidak bilang aku bodoh?” Nicha memulai pembicaraan santai dengan tiga orang itu.
“Bodoh lah, jelas.” Nilam langsung menjawab singkat dan menohok, Dua perempuan lain terlihat tertawa.
“Lagipula kalau memang ada sesuatu kamu bisa cerita, minimal cerita Nicha. Kamu merasa hidup sendirian? Valid si.” Karina terdengar sangat sarkas lagi.
“Ya memang, pilihanmu untuk hidup begitu, tapi kamu bisa cerita apa saja ke kita. Tahu kita sibuk, tapi kita juga bisa kok kalau cuma baca pesan.” Tinggal Ega yang benar-benar menegaskan jika mereka bertiga bisa mendengarkan Nicha.
“Dikenalin laki biar dijagain gak mau, yaudah si setidaknya jangan malas ngetik.” Nilam kembali memberikan komentar pedas.
Nicha hanya tersenyum menanggapi kalimat-kalimat menohok dari tiga sahabatnya itu. Bagaimanapun dia tahu dia pantas menerima.
“Biaya rumah sakit gimana?” Nilam bertanya lagi, perempuan itu terlihat sudah duduk di ruang tengah rumah Nicha yang cukup besar.
“Tapi, aku penasaran, kita duduk sambil makan dulu di sini. Aku ingin tahu kenapa kamu bisa melakukan hal yang membuat heboh kota ini?” Karina terdengar serius, dia menenteng sebuah bungkusan dan mulai menata isinya di meja di ruang tengah.