Aroma ayam goreng tepung dari resto kesukaan Nicha membuat dia kemudian tersenyum dan membuka mata.
Rumahnya terlihat sunyi, tapi dia terbangun di sofa ruang tengah seperti biasa. Dia melangkah menuju ke meja makan menuju ke aroma kesukaannya itu berasal.
“Bu…. Ibu beli ayam goreng tepung sebanyak ini? Delivery? Siapa yang pesan?” Nicha menatap ruangan kosong tidak ada balasan dari teriakannya.
Dia melihat dengan senyum, ada minuman kesukaannya juga di sana. Nicha mengambil minuman itu karena merasa itu pasti merupakan miliknya.
“Bu, aku ambil kopinya. Mau ke kamar kerja dulu. Makannya nanti saja.” Nicha masih hanya melawan sunyi setelah kalimatnya.
Dia berjalan perlahan menuju kamarnya, tapi dia curiga tentang sesuatu yang kemudian dia sadari. Perempuan itu terdiam melihat sekitar. Dia menjatuhkan minuman yang sudah dia pegang.
“Ibu….Ayah…. Kenapa tidak menjawab? Dimana?” Kali ini Nicha merasakan takut yang luar biasa.
Dia kembali menatap meja makan yang sudah kosong dan bersih, persis seperti terakhir kali dia lihat, dan menatap kebawah. Tumpahan kopi dingin itu tidak ada di sana.
Nicha mulai merasa dingin, menutup wajahnya dan kemudian menangis pelan.
“Ibu….Ibu….” Nicha berucap lirih terus memanggil, tapi dia menyadari jika tidak akan ada jawaban. Tangisnya lebih keras, dia menyadari hal itu juga.
Seolah dia juga mendengar apa yang dia ucapkan sendiri. Perempuan itu membuka mata, menyadari jika wajahnya basah oleh keringat dan air mata.
“Nicha….Nicha…” Perempuan itu diam, tangisnya mereda dan dia berusaha mengatur isaknya supaya berhenti.
“Nicha…Buka pintunya.” Suara yang Nicha kenal membuat perempuan itu menggeser perlahan tubuhnya ke sisi lain ranjangnya yang lebih dekat dengan pintu kamar.
“Siapa?” Nicha bertanya sebelum membuka pintu. Tidak ada jawaban dari sisi lain pintu itu.
“Mungkin aku masih belum benar-benar terjaga.” Nicha mengerjapkan mata, menyeka dan mengeringkan wajah dan matanya yang basah.
Suara itu tidak lagi ada dan kemudian Nicha mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
“Nona Nilam…Bukankah sudah aku bilang jangan terlalu khawatir. Tolong lah, singkirkan semua yang kamu anggap sebagai pelindung itu.” Nicha membuat Nilam terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan sahabatnya begitu menerima panggilan terlepon.
“Nona Nilam?” Nicha memanggil nama sahabatnya itu lagi dengan sedikit tegas.
“Aku tidak meninggalkan seorangpun di sana.” Nilam akhirnya menjawab.