Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #8

Ikhlas yang Berulang

“Kenapa kamu punya banyak sekali barang?” Yotha berkomentar ketika melihat apa yang dikemas oleh Nicha.

Ada dua koper besar dan juga sekitar empat kardus yang tertutup. Sisanya satu ransel berisi barang-barang yang memang diperlukan untuk tetap bisa diambil sewaktu-waktu.

Perempuan itu menempatkan semua barang yang sudah dia kemas di ruang tengah. Yotha sudah beranjak dari sofa dan mulai menarik koper yang terlihat besar dan terasa berat.

“Kamu menyimpan mayat di koper ini?” Yotha terdengar sedikit mengeluh karena perlu menarik dengan tenaga yang lebih besar.

Nicha berdiri, mengambil alih untuk menarik koper keluar dari rumahnya.

“Sudah membereskan semuanya?” Seseorang membuat Nicha terdiam sebelum sampai di pintu keluar samping rumahnya.

Perempuan itu tidak menjawab, hanya melengos memsang wajah dingin dan kemudian melewati adik laki-lakinya itu.

“Dia selalu saja seperti itu, diam, marah dengan diam.” Kamal terdengar kesal juga dan melangkah masuk, sedikit terkejut melihat Yotha yang kemudian menarik satu buah koper kuning yang lebih kecil.

Nicha berhenti ketika dia melihat mobil yang dibawa oleh Yotha, dia tidak percaya tapi, ini memang apa yang tidak pernah dia duga.

“Aku bantu meletakkan di belakang.” Yotha sudah ada di sisi Nicha dan melompat naik ke mobil di bagian belakang bak terbuka.

Beruntung matahari sudah tidak terik karena menjelang sore, dan Nicha perempuan dengan tenaga yang cukup kuat untuk mengangkat barang yang berat meski dia sebenarnya masih perlu menjaga pergelangan tangannya dari tekanan berat.

“Sebentar.” Yotha membuat langkah Nicha terhenti sebelum masuk ke dalam rumah.

Laki-laki itu meraih tangan Nicha tiba-tiba dan melihat pergelangan tangannya dengan serius.

“Biar sisanya aku yang urus, sepertinya kamu tidak boleh beraktivitas dengan tangan ini terlalu banyak.” Yotha melepaskan tangan Nicha dan berjalan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.

“Kamu bantu saya mengangkat kotak-kotak ini.” Yotha terlihat menepuk punggung Kamal dan membuat adik Nicha itu berdiri dan menuruti kalimat singkatnya.

Nicha terlihat memilih mengambil ransel di dalam kamarnya, melihat sekeliling terlebih dahulu, memperhatikan lemari dan meja yang sudah bersih dari barang-barangnya.

“Kamu lihat laptop dan tabletku?” Nicha bertanya ketika adiknya masuk setelah semua kardus dipindahkan ke mobil Yotha.

Lihat selengkapnya