Barang-barang dibawa ke apartemen Yotha dengan bantuan dua orang security apartemen, setelah mereka sampai di sana.
“Tidak perlu dibongkar semua, aku akan segera mencari tempat baru untuk tinggal.” Nicha kembali bicara setelah duduk di sofa di apartemen Yotha ketika laki-laki itu hendak membantu membuka salah satu kardus.
“Kamu bicara seolah aku membebankan biaya yang mahal untuk sewa tempat ini.” Yotha terdengar menggunakan bahasa yang lebih santai dan berjalan menuju ke arah dapur.
“Apa kamu punya saudara Dokter Yotha?” Nicha terdengar begitu lemah dengan suaranya ketika bertanya.
“Salahku karena tidak pernah membeli apa-apa di sini.” Yotha berjalan menuju kearah Nicha lagi hanya dengan membawa biskuit yang dia temukan di lemari dan juga air mineral dari lemari pendingin.
“Atau sebaiknya kita makan dahulu? Atau memesan?” Yotha menawarkan kepada Nicha setelah meletakkan apa yang dia bawa ke meja di ruang tengah.
Yotha memeriksa jam di pergelangan tangannya, jam tangan klasik yang telah dia pakai lama dan masih selalu hidup untuk menunjukkan waktu.
Nicha masih diam memperhatikan sikap Yotha yang sepertinya tergesa-gesa akan sesuatu dan tidak mendengarkan apa yang ditanyakan tadi.
“Aku… aku harus ke rumah sakit.” Yotha kembali memperhatikan jam yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam itu.
Perempuan yang masih duduk di sofa itu mengangguk mengerti dengan apa yang Yotha katakan.
Laki-laki itu berdiri lagi, dan kemudian berjalan masuk menuju ke kamarnya membawa jas kerja dan segera keluar dari apartemen tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Yotha berjalan bergegas menuju ke lift, tidak banyak orang yang terlihat di sana, bahkan lift kosong. Dia mengambil ponsel pintar yang sejak tadi bergetar di saku celananya.
“Iya Mael, aku sedang berjalan ke sana.” Yotha semakin mempercepat langkahnya untuk menuju ke rumah sakit.
Dia menghela nafas ketika sampai di lobby dan segera masuk ke IGD.
“Lama, aku kan butuh keluar sekarang Yoth, aku tidak ingin orang tuaku menunggu.” Maellee sudah terlihat rapi dengan jas meski dia memakai vans di kakinya.
“Sorry….” Yotha menepuk bahu Maellee sebelum kemudian teman kerjanya itu melangkah menuju ke pintu keluar IGD.
“Permisi Dokter Yotha, ada pasien dengan riwayat tekanan darah tinggi masuk karena tidak sadarkan diri selama kurang lebih tiga puluh menit.” Seorang perawat mendekat memberikan keterangan kondisi pasien darurat.