“Tidurlah di kamar, aku bisa tidur di sofa.” Yotha mendekati sofa karena Nicha sudah duduk di sana.
“Kamu saja, aku sedang tidak ingin tidur.” Nicha terlihat menatap ke layar televisi yang masih belum menyala.
“Besok kamu harus ikut ke rumah sakit, jadi sebaiknya tidur sekarang.” Yotha terlihat tidak setuju dengan apa yang dikatakan Nicha. Perempuan itu sama sekali tidak menoleh meski Yotha sudah berdiri di sisi sofa.
“Aku tidak butuh konsultasi itu, aku butuh untuk segera kembali pada kesibukanku.” Nicha kali ini menoleh perlahan dan tersenyum sedikit membuat Yotha sedikit takut.
“Kamu sedang kacau, jangan terlalu berfikir bisa melewatkan semua tanpa penyelesaian emosi.” Yotha kali ini sudah duduk di sisi Nicha. Perempuan itu masih menatap Yotha, kali ini tersenyum lagi dan wajahnya benar-benar menampakkan hal yang membuat Yotha terdiam.
Tidak seperti ketika pertama kali dia melihat Nicha, perempuan ini seolah perempuan yang tidak sama dengan seseorang yang dikhawatirkannya.
“Aku sudah menemukan tempat tinggal, dan juga segera pindah besok.” Nicha mengatupkan bibirnya dan mengulas wajahnya dengan senyum sekali lagi. Dia sungguh berucap dengan yakin.
“Tapi…” Yotha masih terlihat bingung karena perubahan yang dia rasakan.
Nicha menatap Yotha yang sedang memperhatikan wajah perempuan itu dari dekat.
“Kamu tidak tertarik dengan masalahku bukan?” Nicha terlihat santai dan seolah sedang mencari tahu. Yotha menggeleng perlahan setelah pertanyaan itu.
“Tertarik denganku juga tidak mungkin.” Nicha mengalihkan pandangannya pada layar televisi yang hitam.
“Perasaan iba itu tidak valid ada di sana Dok. Tidak seharusnya.” Nicha menatap Yotha lagi yang masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan olrh perempuan yang terlihat sangat tenang dengan kalimatnya.
“Iba?” Yotha mengulang kata yang baru dia dengar. Asing, bahkan tidak pernah terlintas di benaknya. Tidak pernah ada sama sekali. Dia hanya ingin menepati janjinya sebagai seorang dokter.
“Um…. Sebenarnya tidak banyak yang begitu kepadaku. Dan aku sangat berterimakasih. Berikan nomor rekening Dokter, aku akan bayar semua biaya rumah sakit itu.” Nicha terlihat sangat percaya diri dalam berbicara. Yotha kali ini mengeraskan wajahnya.
Laki-laki itu mengambil ponsel pintar di saku celana yang dia kenakan dan kemudian tersenyum.
“Apakah sepuluh juta cukup?” Nicha terdengar sangat mantap menyebutkan nominal yang membuat Yotha tersenyum di ujung bibirnya perlahan.