Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #11

Sarapan Bersama

Bau harum yang tidak biasa membuat Yotha mengerjapkan matanya perlahan. Selain itu, ada hawa dingin yang seolah menyusup masuk menganggu meski dia merasa ada selimut yang menutupi tubuhnya.

Yotha membuka matanya perlahan, menatap kosong area yang pertama kali dia tangkap dengan kedua matanya. Dia menemukan sumber hawa dingin setelah menemukan sedikit celah di pintu balkon.

Perlahan dia duduk di sofa, mengerjapkan matanya, kemudian menoleh ke arah dapur.

“Sarapan? Minum kopi?” Nicha sudah berada di sana, Yotha langsung berdiri begitu menyadari sesuatu.

“Apa yang kamu kenakan?” Yotha masih menatap salah satu baju tidurnya yang dikenakan Nicha.

Lenggannya terlihat sangat panjang dan digulung sekenanya, meski terlihat kembali turun ketika Nicha terlihat sedang memindahkan roti dari air fryer ke piring.

“Hati-hati panas.” Yotha memegang dua lengan bagian luar tubuh Nicha untuk membuat perempuan itu mundur.

Setelahnya laki-laki itu membantu mengangkat roti dengan kertas yang menjadi alas di air fryer.

Nicha tersenyum sedikit karena melihat apa yang dilakukan oleh Yotha.

“Latte.” Yotha mengucapkan satu kata dan Nicha segera menuju ke lemari pendingin.

“Bukan Ice.” Yotha terlihat mengikuti ketika perempuan itu membuka frezzer.

“Aku juga ingin minum latte dingin.” Nicha menjawab ketika Yotha sudah menangkap tangannya yang mengambil es batu dalam kotak di sana.

“Pagi-pagi?” Yotha terlihat menutup freezer dan kemudian mengambil susu cair yang ada ditangan Nicha.

“Yang hangat saja.” Yotha menatap dua cangkir kopi hitam dan kemudian memindahkan dalam dua mug kemudian menambahkan susu cair.

Yotha meletakkan dua mug di sisi dua piring berisi roti dan telur ceplok setengah matang. Dia kemudian melihat Nicha yang masih berdiri memperhatikan Yotha.

Laki-laki itu meraih tangan Nicha dan kemudian menggulung perlahan lengan baju yang masih terlihat terlalu panjang dikenakan oleh Nicha.

Perempuan itu sedikit terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Yotha, tapi dia berusaha bernafas dengan tenang menatap tangan Yotha yang menggulung lengan baju dengan rapi dan perlahan.

“Aku kira kamu tidak biasa sarapan.” Yotha berkomentar ketika Nicha sudah duduk di sebelahnya untuk menikmati sarapan bersama.

Lihat selengkapnya