Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #12

Sebuah Penghakiman Teman

Nicha memperhatikan sekeliling ketika memperhatikan sejak tadi dia mulai memindahkan barang ke apartemen sebelah.

Apartemen sebelah terlihat berbeda meski hampir sama model ruangannya. Dapur langsung berada di sisi pintu masuk, dan juga di depan pintu masuk jendela besar dan ruang tengah.

“Air sudah mengalir, dan juga Tuan Yotha sudah meminta kami membersihkan ruangan, hanya saja beberapa barang sepertinya sudah tidak bisa digunakan.” Seorang pekerja yang datang sejak pagi terlihat menjelaskan kepada Nicha ketika perempuan itu masuk ke apartemen sebelah.

Ada tiga sampai empat orang yang membantu membersihkan dan juga memeriksa kelayakan huni apartemen itu. Seperti yang Yotha katakan kepada Nicha ketika sarapan pagi. 

“Kalau begitu cukup saja, yang penting sudah bisa ditempati. Air sudah mengalir dan juga sepertinya tempatnya sudah cukup bersih.” Nicha masih memperhatikan sekeliling.

Kardus berisi barang-barangnya saja sudah berada di tengah ruangan di dekat televisi yang ukurannya hampir sama dengan yang ada di apartemen Yotha.

“Tapi Tuan Muda meminta kami melengkapi semuanya baru boleh ditempati.” Nicha tersenyum dan menggeleng sedikit.

“Sepertinya sudah cukup, sisanya biar saya bicarakan dengan Yotha nanti.” Nicha terlihat cukup mengambil alih dan tidak membiarkan para pekerja menuruti apa yang Yotha perintahkan.

“Tapi Nona…” Seorang yang lain terlihat juga ikut mendekat karena pekerjaan mereka memang sudah selesai.

“Tidak masalah, aku akan bicarakan dengan Yotha nanti. Akan aku katakan kalian bekerja dengan sangat baik.” Nicha menambahkan supaya para pekerja itu tenang meninggalkan apartemennya.

Perempuan itu tersenyum menatap apartemen yang terlihat rapi dan punya furniture yang cukup mewah. Dia berjalan perlahan menuju ke jendela besar tanpa tirai yang menampakkan pemandangan rumah sakit yang tidak jauh dari sana.

Ada bunyi samar yang pada akhirnya memudarkan lamunan dan pemikiran Nicha tentang dirinya hari ini.

“Tidak lupa kan kita akan bertemu?” Suara Nilam membuat Nicha mengangguk belum mengucapkan sepatah kata untuk menjawab temannya itu.

“Aku sudah mau jalan ke sana.” Nilam menambahkan lagi, sepertinya dia memang menelepon sambil berjalan karena Nicha menyadari ada langkah heels diantara ucapan Nilam.

“Aku juga akan segera menuju ke sana.” Nicha terdengar cukup serius dan berbalik. Dia menyadari jika masih menggenakan baju tidur milik Yotha meski dia sudah mandi.

“Bajunya cukup nyaman, pasti mahal.” Nicha bergumam ketika menarik sedikit dan mencium baju yang masih wangi itu.

“Mungkin karena semua ruangan menggunakan AC, jadi aku tidak banyak berkeringat.” Nicha tersenyum lagi dan kemudian memandang beberapa kardus kemudian mencoba mencari baju miliknya.

“Tapi kan aku juga menggunakan koper untuk baju?” Nicha kemudian menyadari hal yang dia lupakan. Perempuan itu segera mencari sebuah koper yang masih terletak di dekat pintu masuk.

Nicha menarik dengan cepat dan langsung membuka koper itu. Perempuan itu tersenyum memperhatikan baju yang ada di sana. Dia kemudian memilih sebuah dress polos tanpa lengan berwarna hijau gelap dan cardigan berwarna hijau mint.

Lihat selengkapnya