Sepanjang perjalanan Nilam hanya diam saja begitu pula dengan ketiga temannya. Laras yang mengemudikan mobil Nilam dengan kecepatan yang cukup kencang.
Ketika pelataran rumah sakit terlihat, mereka menyadari jika kedatangan mereka ternyata bertepatan dengan ambulance yang membawa Ayah Nilam.
“Kak… Ayo cepat masuk.” Adik perempuan Nilam terlihat tenang mengajak Nilam untuk masuk ke IGD rumah sakit.
“Serangan Jantung. Pasien tidak sadarkan diri.” Sebuah suara yang Nicha kenal membuat perempuan itu memperhatikan Yotha yang sudah menyambut Ayah Nilam sebagai pasien gawat darurat.
Yotha tidak terlihat memperhatikan jika Nicha ada bersama rombongan pasien. Ketika masuk ke ruang rawat darurat semua orang menunggu di luar ruangan.
Nicha duduk, semua orang hanya diam saja. Dan Nicha sendiri termenung dalam lamunannya sendiri. Bayang Yotha yang terlihat cukup berbeda dan menarik ketika menanggani Ayah Nilam memenuhi pikirannya.
“Kalian bisa pulang jika ada kepentingan lainnya.” Nilam terlihat cukup tegar mulai bicara kepada tiga sahabatnya.
“Sampai dokter keluar Ila.” Laras menjawab mewakili Nicha dan Karina yang masih terdiam.
“Aku belikan minum dulu, ada mau sesuatu?” Nicha sudah berdiri berinisiatif untuk pergi mencoba memberikan beberapa minum untuk menengkan sembari menunggu.
“Aku ikut denganmu Cha.” Karina terlihat sudah berdiri juga untuk mengikuti. Nicha memberikan pandangan menolak.
“Lagipula ada banyak orang di ruang tunggu rumah sakit sepertinya tidak baik.” Karina berbisik perlahan sambil meraih lengan Nicha dan berjalan bersama keluar dari tempat yang sunyi itu.
Lorong rumah sakit terlihat cukup terang meski sudah hampir senja.
“Gugup juga ya Cha, ketika orang tua sakit?” Karina terlihat mulai bicara sambil berjalan menuju lobby mengikuti Nicha.
“Um… Setidaknya kamu perlu memperhatikan kesehatan orang tua Rin.” Nicha mencoba memberikan masukan.
“Iya, aku tahu. Tapi aku juga sibuk untuk mereka.” Karina terlihat sangat serius menjawab Nicha masih sambil berjalan bersisian.
Keluar dari lorong yang berliku, Nicha hampir sampai di lobby IGD. Sudah pasti Nicha gugup. Dia cukup sering berada di sana sehingga mungkin saja ada yang mengenali.
“Apa sebaiknya aku mulai meminta kedua orang tuaku sering check up ya?” Karina terlihat meminta pendapat Nicha yang sedang berusaha tidak terlihat.
Perempuan itu memperhatikan sekeliling dan sudah pasti berusaha menghindari bertemu pandang dengan orang-orang yang mungkin mengenali dia.
“Nicha?” Perempuan itu terkejut ketika seseorang mengucapkan namanya. Perlahan dia mengarahkan pandangan pada seseorang yang berdiri di depan dia dan Karina.