“Terimakasih Dokter Yotha?” Nilam terlihat tersenyum berterimakasih ketika mereka semua sudah memindahkan Ayahnya ke ruang rawat.
Ada hal yang membuat Nicha terkejut setelah ucapan Nilam. Yotha tersenyum menatap Nilam dengan tatapan yang berbeda.
“Sudah tugas saya Nyonya.” Yotha menjawab sedikit dan kemudian menundukkan kepalanya sebagai tanda hendak meninggalkan ruangan itu.
“Ah… Sebentar, apa Dokter sedang sibuk?” Karina meenghentikan langkah Yotha yang sudah hampir setengah jalan sampai di pintu. Semua perawat juga sudah meninggalkan ruangan.
Yotha menggeleng perlahan sambil menatap Karina yang berdiri di sisi Nicha. Perempuan itu justru terlihat menghindari tatapan Yotha.
“Mungkin tidak dibicarakan di sini, bagaimana dengan makan malam?” Laras mencoba untuk bersikap lebih tenang.
Nilam melihat keluarganya dan kemudian berjalan mendekati adik yang sedang berada disisi ranjang tempat Ayah mereka terbaring masih belum sadar.
“Hanya punya waktu sekitar 30 menit.” Yotha menjawab dengan cepat dan mengangguk perlahan masih memperhatikan orang-orang yang sedang mengajaknya bicara itu bergantian.
“Kalau begitu aku akan memesan makanan untuk beberapa staf di IGD juga.” Laras kemudian meraih lengan Nicha dan Karina mengikuti mereka bertiga keluar. Yotha juga hanya mengikuti ketiga perempuan itu setelah keluar dari ruang rawat inap.
“Ke ruangan saya saja.” Yotha mencoba untuk memberikan masukan dan sepertinya ketiga perempuan itu setuju dan mengikutinya begitu saja termasuk Nicha.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan Yotha mereka bertiga hanya bisa saling bertukar pandang tanpa bicara.
“Silahkan masuk.” Mereka sampai di ruangan Yotha setelah lima menit.
Laras mengamati sebuah ruangan yang cukup besar dan juga terlihat sangat elegan. Mereka bertiga duduk sedikit terpisah di ruang tengah ruangan itu yang sepertinya memang menjadi ruang tamu.
“Sudah pasti dia memang bukan hanya Dokter IGD biasa bukan?” Laras berbisik kepada Nicha sebelum akhirnya duduk.
“Jadi ada sesuatu yang perlu dibicarakan?” Yotha tanpa ragu bertanya. Pandangan matanya tertuju pada Karina, kemudian melihat ke arah Nicha dan Laras.
Laras melempar pandangan pada Karina dan Nicha bergantian, dia tidak punya kalimat pembuka.