Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #16

Laras Tebar Pesona

“Makanan sudah sampai di IGD.” Laras memberikan informasi.

Yotha terdiam sementara Laras sudah berdiri hendak keluar dari ruangan. Sepertinya mereka tidak bisa melakukan pembicaraan lebih jauh lagi.

“Setidaknya tiga sampai enam bulan. Setelahnya baru bisa saya izinkan tinggal di lingkungan kalian dengan beberapa prosedur jika tidak terjadi sesuatu yang berbahaya.” Yotha bersuara ketika melihat Laras hendak meninggalkan ruangan.

“Baiklah, tapi dia juga harus bekerja, tidak bekerja untuk anda Dokter. Dan juga jangan memberikan perintah yang aneh untuk temanku.” Karina terlihat bersikap tegas dalam ucapannya.

Yotha mengangguk dan tersenyum sebagai sebuah jawaban.

“Akan lebih cepat selesai jika teman anda ini mau untuk melakukan konsultasi psikologi.” Yotha langsung menyambar mengambil kesempatan untuk membuat Nicha setuju dengan rencananya.

“Bukannya konsultasi tidak akan bisa dilakukan jika dalam kondisi paksaan?” Laras kali ini mengucapkan kalimat panjang meski dia kemudian Yotha juga mengangguk tanda setuju.

“Mungkin negosiasi, jika bisa?” Yotha kali ini menatap Nicha yang juga berani menatap Yotha meski matanya terlihat cukup ragu.

Laki-laki itu berjalan menuju meja kerjanya dan meraih telepon yang terletak diatas meja.

“Tolong terima jika ada makanan datang atas nama…” Yotha mengalihkan pandangannya pada Laras.

“Laras.” Perempuan itu langsung mengerti ketika Yotha menatapnya sambil bicara di telepon di dekat meja kerjanya.

“Aku cukup dewasa dengan apa yang menjadi keputusanku bukan?” Nicha terlihat mulai bicara dengan nada yang perlahan. Laras kembali duduk sambil asyik memperhatikan wajah Yotha yang sedang menatap Nicha.

“Aku tetap pada asumsi dan apa yang menjadi analisaku sebagai dokter terhadap pasien yang objektif. Jadi, tidak menerima masukan yang tidak mendukung semuanya itu.” Yotha terlihat membenarkan kacamatanya seolah dia telah mengambil keputusan yang sangat benar.

“Sudahlah, enam bulan akan berlalu dengan sebentar. Lagipula kamu akan banyak pekerjaan di rumah. Setidaknya Dokter Yotha bisa mengawasimu.” Laras terlihat mendukung pendapat Yotha.

“Sekali lagi kami tidak keberatan, asalkan dia tidak diminta bekerja untuk anda.” Karina mengulangi kalimatnya semula dengan wajah serius. Pandangannya tajam menunjukkan keseriusan dengan ucapannya.

Yotha hanya mengangguk dan tersenyum.

“Tapi dia punya hutang juga, jadi tidak ada yang bisa memperdebatkan persoalan pribadi saya dengan Nona Nicha.” Nicha terlihat mengalihkan pandangannya pada Karina dan mengangguk perlahan.

“Sudahlah, ini urusanku dengan Yotha. Biarkan saja aku menyelesaikan sendiri dengannya.” Nicha terdengar santun meski dia tidak menatap Yotha.

Lihat selengkapnya