Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #18

Dia Ada di Depan Pintu

“Tidak perlu ke rumah sakit, lagipula Ayahku akan segera pulang hari ini.” Suara Nilam terdengar jelas dan juga tenang. Nicha membuka tirai jendela di apartemen yang dia tinggali, menatap bangunan rumah sakit yang terlihat dari jendela itu dengan jelas.

“Aku bisa membantu persiapan pulang.” Nicha menawarkan bantuan.

“Tidak perlu, kamu tahu sudah banyak orang yang melakukan itu.” Nilam menjawab dengan nada yang lebih ceria.

“Lagipula aku sudah tiga hari hanya di sini.” Nicha membuat Nilam tertawa sedikit karena tahu kebiasaan sahabatnya yang memang hanya diam di tempatnya tinggal.

“Tidak lupa makan?” Nilam terdengar cukup serius dengan apa yang dia tanyakan.

“Um… roti. Aku tidak boleh terlalu banyak makan karena banyak pekerjaan. Laporan sudah selesai, tapi yang lainnya. Dan juga perkara yang kamu kirim perlu analisis itu.” Nicha sebenarnya cukup kelelahan.

“Aku kirimkan makanan. Kamu mau apa? Sushi?” Nilam terdengar serius dengan apa yang dia tawarkan.

“Nanti saja aku pesan sendiri. Analisanya sudah aku kirim email.” Nicha memberikan informasi.

“Siang Dok.” Suara Nilam terdengar menyapa seseorang yang sepertinya baru dia jumpai.

Nicha terdiam, mendengarkan meski dia ingin segera menutup panggilan itu. Jantungnya berdebar cukup kencang karena dia menebak siapa yang baru saja disapa Nilam.

“Siang semuanya. Bagaimana Pak?” Suara yang Nicha kenal, tapi terdengar sangat ramah. Nicha mendengarkan ingin mendengarkan lebih.

“Cha, nanti aku hubungi lagi ya.” Nilam berbisik, tapi Nicha sepertinya ingin mencegah.

“Sebentar, aku tunggu saja.” Nicha membuat Nilam sedikit bingung, tapi dia kemudian meletakkan ponselnya telungkup di sebuah meja di dekat tempat tidur pasien.

“Sudah boleh pulang, tapi masih perlu pemeriksaan lebih lanjut dan banyak istirahat di rumah.” Suara itu terdengar sangat profesional di telinga Nicha.

“Oia Dok, untuk perawatan lanjutan itu, bisa tidak kalau ada tenaga medis yang datang ke rumah?” Nilam terdengar bicara, Nicha masih mendengarkan melalui panggilan telepon.

“Bisa, silahkan meminta ke bagian perawatan nanti sambil mengurus ijin keluar pasien.” Yotha masih menjawab dengan nada serius dan ramah.

“Tapi, lebih baik jika Dokter Yotha yang melakukan kunjungan. Bagaimanapun yang paling tahu kondisi Ayah kan Dokter.” Suara orang lain yang tidak Nicha kenal terkesan manja pada Yotha.

Nicha menerka, tapi dia tidak tahu siapa yang berbicara.

Lihat selengkapnya