Hampir pasti Nicha tidak ingat bagaimana dia sampai di tempat tidur. Dan juga dia bangun perlahan, terlihat masih sedikit enggan.
Berjalan pelan menuju ke sofa di ruang tengah dan rebah lagi di sana, sambil kemudian meraih remote untuk menyalakan televisi. Hampir 30 menit dan dia baru menyadari jika ruangan itu rapi dan bersih.
“Hah?” Nicha menatap sekeliling, dia duduk di sofa dan menatap dapur kecil dari sana.
“Laptop.” Nicha berdiri dan berlari menuju ke kamarnya lagi. Semua barang dan beberapa kertas rapi di meja di kamar yang dia tempati. Nicha kemudian mendekat dan mengambil ponsel pintarnya yang tidak menyala.
“Charger.” Nicha kemudian meraih charger untuk mengisi daya di meja dan kemudian menekan tombol untuk menyalakan ponsel setelah lima menit di charger.
“Nilam.” Nicha bergumam setelah membaca beberapa panggilan masuk dan juga pesan.
“Tidak ada pekerjaan yang dia berikan. Ini tanggal berapa?” Nicha terdiam menatap layar depan ponselnya.
“Aku tidur sehari semalam? Gila!” Nicha memekik memegang kepalanya tercengang dengan apa yang terjadi.
“Biasanya aku tidak selemah ini.” Nicha tersenyum dan kemudian menarik sedikit baju yang dia kenakan dan menciumnya.
“Aku buat kopi dulu lah, tidak bau.” Nicha tersenyum meletakkan ponsel pintarnya sendiri dan kemudian keluar dari kamar.
Dia menuju ke dapur kecil di sisi pintu masuk, dan sambil menunggu air mendidih dia mendengar bunyi di depan pintu seperti tombol yang ditekan. Nicha gugup karena takut.
“Sudah hampir jam sembilan malam, kenapa pintunya bunyi?” Nicha terdiam dan menatap pintu menunggu apa yang mungkin akan muncul dengan menggenggam teflon ditangannya.
“Yotha?!” Nicha memekik membuat laki-laki itu juga sedikit terkejut. Tapi terlihat masih cukup tenang dan membenarkan kacamata yang dia kenakan.
“Sudah bangun?” Yotha bicara perlahan dan kemudian melihat ke arah kompor yang sedang menyala.
“Mau makan?” Yotha berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil sebuah kotak dari sana dan menuju microwave.
Nicha masih diam, menyiramkan air ke kopi di dalam mug yang sudah dia siapkan.
“Makan dulu, jangan minum kopi. Kamu belum makan berapa hari?” Yotha terlihat memberikan peringatan.
Perempuan itu masih diam, meski dia tetap membawa mug dengan kopi panas ke ruang tengah.