Arah Pulang

tami ilmi
Chapter #20

Jadi 200 Juta

“Kalau aku bisa melunasi hutang hari ini, apakah Dokter akan mengizinkan aku pindah?” Nicha terlihat cukup serius memberikan pertanyaan.

Yotha menoleh, piring di tangan Nicha sudah kosong. Beberapa makanan masih utuh di meja. Hanya sushi saja yang sudah habis.

“Jangan berandai-andai. Pikirkan saja hari ini, bagaimana kamu melaluinya. Makan makanan sehat atau tidur cukup apa tidak.” Yotha terlihat memberikan sindiran kepada Nicha.

“Aku bisa melunasinya hari ini.” Nicha terlihat serius dan kemudian berdiri, masuk ke kamar, mengambil ponsel pintarnya yang sedari tadi tidak dia cari seperti biasa.

“Baiklah, semua totalnya jadi 200 juta.” Yotha membuat Nicha mengalihkan pandangannya dengan serius dan bahkan bola matanya seperti hendak keluar dari wadahnya.

“Jangan becanda?” Nicha duduk lagi di sofa masih sambil membuka aplikasi di ponsel pintarnya. Memeriksa saldo yang dia punya saat ini. Dia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dia temukan.

“Tidak becanda, kenapa juga aku becanda?” Yotha menjawab tanpa menoleh ke arah Nicha. Perempuan itu menatap Yotha dan kemudian menatap layarnya lagi.

“Bisakah kamu membuat hutangku tetap di 100 juta? Aku akan melunasinya saat ini juga.” Nicha kali ini berucap cukup pelan membuat Yotha menoleh mengalihkan pandangannya ragu pada perempuan yang terlihat masih menatap layar ponselnya.

Yotha mengintip sedikit, tapi layar ponsel Nicha terlihat gelap.

Laki-laki itu terlihat sedikit ragu untuk bergerak mendekat, wajah Nicha terlihat cukup sedih hanya dalam beberapa detik seolah dia baru saja mengetahui sesuatu yang sangat menyakitkan.

“Sudahlah, jangan pikirkan hutang. Tinggalah di sini dan aku hanya akan mengawasimu sesekali. Kalau perlu aku akan membiarkanmu tinggal tidak mengganggu. Tapi, kamu perlu untuk peduli tentang kondisimu sendiri.” Yotha berucap panjang dan Nicha masih tidak mengalihkan pandangannya, hanya tertunduk mengenggam ponselnya.

Yotha bergeser perlahan, dari dekat wajah Nicha terlihat lebih sedih dan juga pelupuk matanya tergenang, ada bulir yang jatuh dengan cepat kebawah dan membuat Nicha semakin menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.

“Aku hanya ingin kamu lebih mempedulikan kesehatan saja. Jika makan dan tidur cukup maka potensi stress dan depresi akan berkurang.” Yotha sedikit gugup meski dia berusaha untuk tenang.

Tubuh Nicha berguncang sedikit, perempuan itu sepertinya menahan supaya Yotha tidak melihat. Dia sudah membuang wajah menghindari tatapan Yotha dan mencoba untuk berdiri meninggalkan sofa.

“Nona Nicha?” Yotha mencegah perempuan itu untuk pergi meski Nicha sudah berdiri dari sofa. Tanpa sengaja Yotha menyentuh tangan Nicha dan segera melepaskannya setelah perempuan itu berhenti bergerak.

“Aku tidak bermaksud untuk mempersulit. Hanya saja perlu penangganan lebih lanjut soal kesehatan mental yang…” Yotha menghentikan ucapannya dan buru-buru berdiri karena Nicha hendak berjalan.

Kali ini Yotha memegang pergelangan tangan Nicha tanpa melepaskannya dan menyusul berdiri di belakang tubuh perempuan itu.

“Hanya memastikan semuanya baik-baik saja.” Yotha berbisik perlahan. Tiba-tiba Nicha berbalik dan langsung memeluk laki-laki itu. Wajah Yotha terkejut, perlahan dia merasakan hangat tubuh seseorang yang lekat dengan tubuhnya.

Ada titik basah yang juga dia rasakan jatuh di bahu sebelah kirinya. Ada kebingungan yang tidak bisa dia tuntaskan dan hanya menunggu Nicha menjelaskan.

Lihat selengkapnya