Cahaya sudah masuk tapi mata Nicha sama sekali tidak terpejam. Semalaman dia memandangi televisi, menonton bermacam drama yang sebenarnya tidak dia nikmati.
Ponselnya tiba-tiba berdering, membuat dia sedikit terkejut dan langsung menerima panggilan tanpa melihat layar.
“Sudah bangun?” Sebuah suara membuat Nicha tersadar dan menatap layar ponselnya sebentar.
“Ah… Sudah.” Nicha menatap kosong layar televisi. Dia baru mulai merasa mengantuk.
“Punya sesuatu untuk sarapan?” Suara Yotha terdengar santai.
“Um… aku ingin tidur sebentar lagi.” Nicha menjawab perlahan seolah dia tahu jika harus memberikan alasan.
“Buka pintu saja.” Yotha sepertinya tidak menerima penolakan. Nicha gugup, dia segera bangun dari sofa meski malas.
“Jika perlu berangkat pagi, tinggalkan saja di depan pintu.” Nicha terdengar masih berusaha menolak meski dia sudah berdiri di depan pintu.
“Buka saja, aku juga mau sarapan dulu.” Yotha masih mengesankan tidak ingin ditolak. Dan akhirnya Nicha menunggu hampir 1 menit baru membuka pintu yang sebenarnya sudah ada dihadapannya sejak tadi.
Laki-laki dengan kaos oblong berwarna putih dan juga celana pendek berwarna krem. Pemandangan yang tidak pernah Nicha lihat meski dia masih menggenakan kacamata dan rambutnya terlihat cukup rapi karena disisir.
“Kamu tidak ke rumah sakit?” Nicha bertanya tapi Yotha langsung masuk ketika pintu dibuka. Perempuan itu mengikuti Yotha yang masuk ke dapur tanpa menjawab.
“Jam delapan pagi, biasanya sudah berangkat bukan?” Nicha terlihat masih bertanya meski suaranya pelan.
Yotha memeriksa lemari pendingin, dia menemukan ada beberapa makanan yang memang masih bisa dimakan untuk sarapan.
“Bukannya pekerjaanmu penting? Kamu itu perlu menyelamatkan banyak pasien.” Nicha masih berusaha untuk mengingatkan Yotha.
“Ada burger untuk sarapan apa tidak masalah?” Yotha bertanya sambil menatap Nicha masih dengan mata yang tersembunyi dalam kacamatanya. Mata mereka bertemu, Nicha mengalihkan pandangannya karena gugup.
“Kamu tidak tidur semalam?” Yotha meletakkan burger di microwave dan kemudian menatap wajah Nicha dengan serius.
Nicha menggeleng seolah dia sedang ketahuan, tapi masih mencoba menyembunyikan.
“Sarapan dulu, setelahnya mandi air hangat. Tidak perlu minum kopi pagi ini. Aku ganti coklat hangat?” Yotha bertanya dan Nicha menggeleng perlahan.
“Teh chamomile saja, biar aku buat sendiri.” Nicha menjawab pelan dan kemudian masuk ke area dapurnya.
“Hari ini di rumah saja, tidak ada acara keluar rumah bukan?” Yotha masih menatap Nicha sambil bertanya.
“Ingin menemui seseorang.” Nicha menjawab singkat dan entah kenapa dia menjawab dengan cepat.