Perempuan itu mengerjapkan matanya perlahan, telinganya mendengar dering yang tidak berhenti meski cukup jauh. Awalnya dia tidak menghiraukan apapun itu, namun dering itu terdengar terus menerus membuat Nicha pada akhirnya bangun dan perlahan mencari asal suara itu.
Matanya masih belum melihat dengan jelas, tapi dia menggeser layar untuk menerima panggilan.
“Kenapa kamu selalu berulah Mba? Bukannya sudah ditransfer uang dengan jumlah besar, masih juga ribut.” Suara pelan tapi kalimatnya terdengar cukup menusuk.
Nicha menjauhkan ponsel dari telinga untuk melihat siapa yang melakukan panggilan. Sebuah nomer yang diberi nama si pemilik nomer itu tanpa ada tambahan sedikitpun.
“Maksudnya?” Nicha bersuara perlahan. Dia memang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan.
“Sedikitpun kamu tidak mau mengalah untuk keponakanmu Mba? Apa kamu benar-benar ingin menguasai? Lagipula meneurut agama. Oia lupa kamu kan cuma pakai topeng agama.” Suara perempuan yang merecap panjang dan Nicha masih belum mengerti tentang apa.
Nicha diam, berjalan keluar dari kamar dan kemudian duduk di sofa, baru ketika dia berusaha bertanya telepon itu sudah ditutup oleh si penelepon.
Layar telepon pintarnya gelap, dia hanya bingung dan mengingat apa yang baru dia dengar.
“Tidak mengalah, transfer?” Nicha kemudian memeriksa ponselnya lagi, ada beberapa notifikasi yang masuk mungkin ketika dia tidur.
Matahari terasa sangat menyilaukan ketika Nicha mulai tersadar memeriksa satu persatu notifikasi di ponselnya itu.
“Oh… Uang tambahan ini?” Nicha kemudian membuka pesan yang dia terima.
“Lima ratus juta?” Nicha terdiam membaca pesan dari Nilam.
“Rumah itu dibeli dengan harga yang sangat murah ternyata?” Nicha kembali memeriksa transfer yang masuk.
“Padahal tidak sampai seratus juta, dia juga ada limaratus juta.” Nicha bergumam, masih kesal tapi dia sama sekali tidak ingin meminta lebih.
Hanya menghela nafas dan kemudian air matanya menetes.
“Bu, bukan aku tidak menganggap adik. Tapi, pada kenyataannya aku perlu menanggung semuanya sendiri. Dunia memang berubah, dan manusia juga begitu Bu.” Nicha bergumam lirih, air matanya tidak lagi dibendung.
Ucapan lirihnya membuat hatinya teriris sendiri. Selama ini dia selalu takut, tapi nyatanya ketakutannya bukan hal yang paling besar yang terjadi.
Kelemahannya adalah karena dia mudah memaafkan meski hatinya merana sendiri.