“Kenapa kamu mendadak diam sekali?” Yotha menatap Nicha ketika mereka masih belum keluar dari mobil di parkiran mall di kota itu.
“Kamu yakin tidak masalah? Tidak takut jika mungkin?” Nicha memberikan pertanyaan yang tidak dimengerti oleh Yotha.
“Ada masalah apa? Kita hanya melihat-lihat, makan, nonton? Kamu suka ke mall kan?” Yotha bertanya kepada perempuan yang masih melihat ke depan.
Kali ini Nicha memang terlihat cukup berbeda. Yotha pernah melihatnya sekali ketika Ayah Nilam masuk IGD. Laki-laki itu mendapati Nicha bisa memberikan penampilan yang tidak seperti biasa.
“Baiklah, aku akan beli semua yang aku mau juga.” Nicha pada akhirnya menghela nafas dan tersenyum setelah ucapannya.
“Jangan lupa traktir aku makan.” Yotha menambahkan membuat Nicha memasang wajah cemberut sedikit.
“Kurangi dari hutangku tapi.” Nicha membuat Yotha tersenyum dan membuka pintu mobil. Perempuan itu juga membuka pintu mobilnya dan baru menyadari jika dia baru saja naik mobil yang cukup mentereng.
Keluar dari mobil mereka berjalan sebentar dan kemudian menggunakan lift untuk naik ke lantai tiga.
“Kita lihat jadwal film dulu.” Nicha hanya setuju dan kemudian mengikuti Yotha setelah keluar dari lift. Sampai di bioskop mereka memperhatikan beberapa film di layar televisi yang memang sedang tayang di sana.
Bioskop di mall itu terlihat cukup ramai. Dan tempat duduk di sana penuh dengan orang yang sepertinya menunggu untuk menonton film.
“Mau nonton Ghost in the cell?” Yotha terlihat cukup serius memilih meski Nicha masih memperhatikan film-film di layar.
“Boleh menonton Para Perasuk?” Nicha meminta kepada Yotha dan laki-laki itu hanya mengangguk setuju dengan permintaan Nicha.
Dia bergerak untuk membeli tiket film yang Nicha minta.
“Sebentar, kamu tidak berdebat?” Nicha menahan lengan Yotha dan laki-laki itu menatap tangan Nicha yang menyentuh lengannya dengan lembut. Yotha hanya menggeleng perlahan.
“Kalau begitu nonton Ghost in The Cell saja.” Nicha mengubah pilihannya. Dan Yotha hanya mengangguk dan tersenyum.
“Mau pilih tempat duduk?” Yotha meraih tangan Nicha sebelum melepaskan lengannya perlahan. Dia menggandeng perempuan itu untuk membeli tiket.
“Tangannya hangat, atau karena aku merasa dingin?” Nicha berucap dalam hati ketika merasakan sentuhan tangan Yotha.
“Ghost in the cell untuk dua orang. Duduknya?” Yotha bicara dengan pelayan yang membantu untuk membeli tiket.
“Sebentar kita pilih jam tayang dulu bukan?” Nicha bertanya dan Yotha mengangguk karena dia lupa.