“Ini enak juga ternyata.” Yotha memberikan komentar ketika pertama kali dia mengigit corndog miliknya. Nicha hanya tersenyum sambil memperhatikan raut wajah Yotha.
“Sesekali jadilah manusia, jangan hanya tahu cake dan kopi.” Nicha memberikan komentar yang membuat Yotha memberikan pandangan keki pada perempuan itu.
“Sesekali jadi seseorang yang berusaha membuat senang diri sendiri.” Nicha kali ini membuat Yotha menatap perempuan itu dengan lebih lembut.
“Bukankah kalimat itu lebih pantas untuk kamu?” Yotha membuat Nicha berhenti makan dan menatap laki-laki itu sambil menggeleng.
“Aku sering membahagiakan diriku sendiri.” Nicha kali ini menjawab cepat, meski Yotha sudah menggeleng karena dia merasa lebih tahu.
“Tinggal lima belas menit lagi filmnya.” Yotha menyadari ketika dia melirik jam di pergelangan tangannya.
“Aku sudah selesai.” Nicha sudah memasukkan potongan terakhir corndog ke dalam mulutnya, membersihkan remahan yang jatuh ke pakaian yang dia kenakan.
“Teokpokkinya bagaimana?” Nicha menatap Yotha yang juga sudah membuang bekas bungkus corndog namun masih memegang cup tertutup dengan teokpoki.
Nicha tersenyum dengan apa yang dia lihat. Dokter yang begitu berwibawa di rumah sakit menjadi begitu terlihat sangat berbeda. Tapi perempuan itu harus mengakui jika Yotha terlihat sangat menarik seperti itu.
“Kita simpan di tas ini saja.” Nicha meraih cup teokpoki milik Yotha dan kemudian memasukkannya ke dalam tas berwarna merah dengan logo dari kedai tempat mereka baru makan tadi.
“Kita cepat ke atas?” Nicha sudah berdiri dan berusaha berjalan lebih cepat, sedangkan Yotha berjalan di belakangnya dengan gugup.
“Padahal kita tidak perlu buru-buru kan?” Yotha setengah berteriak berusaha supaya Nicha bisa menunggunya sebelum naik eskalator. Beberapa orang sepertinya juga sama dengan mereka buru-buru dan melewati Nicha yang berhenti menunggu Yotha.
“Pelan saja, kita tidak akan terlambat.” Yotha terlihat sudah berada di sisi Nicha. Laki-laki itu kemudian meraih tangan Nicha
Perempuan itu gugup sebentar mendapati dia berpegangan tangan dengan Yotha. Tapi dia mencoba menjauhkan pikiran yang berlebihan.
Eskalator berjalan perlahan dan beberapa orang di depan mereka juga terlihat berpasangan. Rasa canggung membuat Nicha tidak bicara.
“Ini film thriller kan?” Yotha tiba-tiba bertanya dan menoleh sebentar. Kacamata yang dia gunakan kali ini terlihat tidak sama dengan yang biasa digunakan di rumah sakit. Nicha baru menyadarinya.
“Um… Sepertinya cukup seram.” Nicha berkomentar sedikit dan tersenyum.