ARCANA DOMUS

Oleh: KIN DOUTZEN

Blurb

Akhirnya Luna pulang. Ia melewati pintu jati yang terlihat kokoh itu, namun, segalanya tampak seperti memori yang membeku dalam kaindahan. Aroma masakan Ibu yang gurih masih mengepul di meja makan, tawa renyah Ayah masih terdengar dari ruang tamu, dan celotehan hangat kedua adiknya, Brian dan Bianca, seolah menghapus pahitnya tahun-tahun pelarian Luna di kota.

Namun, siapa sangka? Kebahagiaan itu mulai menunjukkan retakkan yang nyata?

Sesekali aroma masakan Ibu yang sedap berubah menjadi bau tanah yang membusuk? Mengapa sang Ayah selalu memperban kedua tangannya? Mengapa pelukan Bianca seolah tak pernah sampai di hangat kulitnya? Dan, Brian, ada apa dengan Brian yang sesekali terlihat lebih murung di wajahnya yang ceria itu?

Di rumah ini, setiap tawa adalah benang yang dirajut untuk menutupi lara, dan setiap sudut ruangan adalah sebuah labirin yang menolak kebenaran.

Dan Luna harus memilih: tetap tinggal dalam perjamuan indah yang ia ciptakan sendiri, atau membuka pintu kamar yang terkunci dan menghadapi nisan yang selama ini ia sebut sebagai rumah.

Lihat selengkapnya