Gerimis tipis menyapu Kota Jakarta sore itu, namun Luna Qiantara France tidak merasakannya. Pikirannya sudah lebih dulu melompati pagar besi berkarat di hadapannya, masuk ke dalam bangunan dua lantai yang berdiri angkuh di ujung jalan.
Sebuah bangunan bersejarah yang sudah ada bahkan jauh sebelum ia lahir, katanya, dulu, ayahnya yang membangun rumah ini untuk keluarga mereka, sebuah bukti jerih payah dari seorang kepala keluarga dan suami idaman. Dan saat bertemu Ibu mereka, keyakinan itu menjalar lebih dari yang orang lain nilai.
Dibagun di atas tanah yang subur, semuanya harusnya rindang, teduh, dan damai. Setidaknya, begitulah gambaran di benak Luna tentang rumah di hadapannya.
Sebuah rumah yang penuh akan harapan orang-orang di dalamnya yang masih berdiri kokoh meski melampaui masa dan sudah banyak melewati segala macam cuaca.
Bagi orang lain, bangunan itu mungkin hanya tumpukan bata dan semen tua, tapi bagi Luna, itu adalah sebuah kotak musik yang menyimpan melodi paling indah dalam hidupnya.
Luna merogoh saku kemeja birunya. Jemarinya menyentuh sepotong logam dingin. Pandangannya jatuh pada kunci dengan ukiran nama belakangnya–FRANCE di telapak tangannya. Saat mengeluarkannya, ia tampak sangat hati-hati dan setengah tenang, seolah memegang sebuah relik suci yang agung.
Anehnya, kunci itu tampak begitu berkilau, seperti memantulkan sisa cahaya sore yang pucat namun begitu serasi di jemari lentiknya, tanpa setitik pun noda karat yang seharusnya ada setelah bertahun-tahun ditinggalkan.
Ceklek,
Suara pintu itu terdengar seperti harmoni yang pas namun sempat hilang di telinga Luna. Begitu kakinya melewati batas pintu, pelukan hangat dari sebuah aroma bawang goreng dan sayur lodeh kesukaannya telah merengkuh jiwanya yang kosong.
Luna memejamkan mata. Ia menghirup dalam-dalam aroma yang selalu ia rindukan itu, membiarkannya memenuhi paru-parunya yang selama ini hanya terisi oleh polusi kota dan sebuah rasa sepi yang perlahan menggerogotinya.
Pandangan Luna langsung jatuh pada sekat dapur yang bahkan keberadaannya jauh di belakang sana, muncullah sosok wanita bercelemek pink itu,
“Ibu?”
Wanita setengah baya itu menoleh, wajahnya berseri, kulitnya tampak halus dan bercahaya di bawah lampu ruang tengah yang kuning keemasan. Tidak terlihat kerutan kelelahan, tidak ada mata merah atau kantung mata hitam yang biasanya muncul setelah begadang di meja judi.
Di mata Luna, Ibu adalah Definisi dari pulang.
“Luna? Itu kamu, nak?”
Ya, seharusnya seperti ini pemandangannya, Luna melihat alis sang ibu mengangkat terkejut, menyusun untaian haru dan kerinduan yang luar biasa tebalnya di sana. Ditaruhnya sayuran yang masih mengepulkan asap tinggi hingga atap kosong itu. Sepenuhnya sang Ibu menatapnya dengan tegak.
“Baru sampai, sayang? Ayo, cuci tanganmu. Ibu baru saja mengangkat sayur lodeh kesukaanmu. Ini masih berasap, loh,” ujar Ibu sambil tersenyum tulus. Ia kemudian mendekat, hendak menyentuh pipi Luna.
Luna merasakan udara menjadi lebih hangat saat jemari ibunya menggantung di udara. Namun, saat kulit mereka hendak bersentuhan, lampu di lorong atas berkedip dua kali dengan cepat.
Zip..zip..
Dalam sepersekian detik yang begitu singkat, Luna bahkan mengira itu hanya ilusinya—saat ia mencium sesuatu yang berbeda. Bukan aroma sayur lodeh, melainkan sebuah bau yang mendekati aroma apek kain basah yang dibiarkan membusuk di suatu ruangan. Ia melihat sekilas jemari ibunya tidaklah lembut, melainkan kurus kering dengan kuku-kukunya yang telah menghitam.