Beberapa saat lalu, Luna izin untuk menaruh kopernya di lantai atas sebelum ikut makan, berganti pakaian dan membersihkan diri. Setelah selesai merapikan apa yang ada, Luna menatap cermin berdiri di kamarnya. Menampilkan pantulan dirinya yang terlihat lebih dewasa dari yang ia pikir, mungkin banyaknya masalah di luar sana membuat ia terjerat dalam kelelahan yang nyata, Luna menggeleng pelan, ia tidak mau membawa beban yang tidak perlu ke dalam rumah ini. Ia tidak mau merusak suasana yang begitu nyaman untuknya saat ini.
Sore ini adalah acara spesial makan malam bersama setelah sekian lama, ia tidak boleh mengabaikannya. Semuanya harus sempurna, begitupun dengan apa yang ia pakai. Luna mengenakan gaun malam yang terlihat sempurna namun terasa kelam. Seperti ada sulaman yang terlepas diantara jahitannya yang rapi, tapi seakan ada sutra mewah yang membalut tubuhnya, keberadaan benang itu seakan tertutup keberadaannya.
Luna berpaling kemana pintu kamarnya berada, langkahnya tegas meski di ujung kakinya terasa ada keraguan yang menancap. Meski begitu ia tetap memutar knop pintu klasik itu dan mulai melangkah menuju lorong yang mempertemukannya dengan tangga melingkar sebagai penghubung lantai satu.
Dengan senyum minimalis yang dirangkai di wajahnya, Luna melangkah penuh keyakinan. Meski setiap langkah yang Luna ambil diiringi oleh derit tangga yang menyatu dengan aroma khas dari dinding-dinding yang dingin dan lembab. Perpaduan yang asing namun juga terasa akrab bagi dirinya.
Sampailah Luna di Meja makan kayu yang berada di tengah ruangan yang tampak berkilau, seolah-olah baru saja dipoles dengan minyak kenari yang paling mahal yang pernah ada. Pandangan Luna beralih ke telapak meja putih bersih dengan hiasan bordir bunga lili di tepinya membentang rapi penuh kenangan, menopang beban mangkuk-mangkuk porselen antik ribuan tahun itu, isinya? lauk pauk dan sup-sup yang berisi banyak harapan yang mengepul panas.
Di mata Luna, ini adalah perjamuan kudus. Sebuah upacara penyambutan bagi anak yang hilang.
“Duduklah, Luna. Jangan hanya berdiri seperti tamu,” suara Ayah terdengar berat namun hangat. Beliau sudah duduk menanggalkan obengnya dan kini duduk di kepala meja, memimpin dengan wibawa seorang kepala keluarga yang protektif.
Luna menarik kursi rotannya, unyi derit kursi itu terdengar begitu renyah, lagi-lagi ada perasaan akrab di sana. Di sebelah kirinya, ada Brian yang sedang berebut sendok besar dengan Bianca, sebuah pemandangan yang membuat dada Luna terasa sesak oleh kebahagiaan yang menyakitkan.
“Bianca, biarkan adikmu yang ambil nasi duluan,” tegur Ibu sambil meletakkan sepiring tempe goreng yang kuning keemasan.
“Aku bukan adik, kami ini kembar, Ibu!” protes Brian sambil menjulurkan lidahnya ke arah Bianca.
Luna tertawa. Sebuah tawa yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain karena tidak pernah bisa keluar dari tenggorokannya. Kemudian ia beralih ke piringnya, merasakan tekstur dari porselen yang halus itu di jemarinya. Saat sang Ibu tengah menyendokkan sayur ke piringnya, Luna melihat betapa hijaunya sayuran itu dan betapa nyata-nya uap yang tengah membumbung tinggi.
“Makan yang banyak, ya, Luna. Kamu terlihat semakin kurus sejak terakhir Ibu melihatmu,” ujar Ibu. Matanya menatap Luna dengan binar kasih sayang yang begitu dalam, seolah-olah sang Ibu bisa melihat dan menembus jiwa Luna yang lelah.
Luna menyuap sendok pertamanya.
Gurih. Hangat. Sempurna.
Namun, saat ia mulai mengunyah, indra penciumannya menganggap sesuatu yang ganjil.
Sebuah bau tajam yang menusuk, seperti bau daging yang dibiarkan busuk di bawah terik matahari selama berhari-hari. Luna bahkan tersedak kecil. Ia segera meraih gelas yang berisi air putih di sampingnya dan meneguknya dengan rakus.
“Pelan-pelan, Kak. Tidak akan ada yang mencuri makananmu,” ledek Banca yang kembali menarik lengan sweaternya terus-menerus merosot, menutupi noda merah yang sebelumnya Luna lihat.